Analisis Pola Kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Prespektif Presidensial Efektif (Bagian 2-Selesai)

Sumber Gambar: Flickr.com

Pola Komunikasi Kepemimpinan Abdurrahman Wahid

Sudah disinggung sebelumnya bahwa salah satu prasyarat seorang pemimpin efektif adalah dapat memberikan pengaruh terhadap bawahannya yang memunculkan trust. Kepercayaan tersebut dapat dibangun dengan kemampuan komunikasi yang baik dari pemimpin tersebut.

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana pola kepemimpinan melalui komunikasi yang dilakukan Gus Dur. Bagian ini sebagian besar penulis ambil dari analisis kepemimpinan melalui komunikasi yang ditulis oleh Tjipta Lesama dalam buku “Dari Soekarno Sampai SBY” (2009).

Untuk dapat menangkap pola komunikasi Gus Dur, Tjipta Melakukan penelusuran melalui wawancara dengan orang-orang dekat Gus Dur atau orang yang pernah menjabat posisi penting di era presiden Gus Dur, diantaranya adalah Mohammad Sobari, Ryaas Rasjid, Rizal Ramli, Letnan Kolonel Djuanda serta menelusuri pustaka dan sumber-sumber berita lainnya, komunikasi Gus Dur digambarkan dibawah ini:

Pada dasarnya Gus Dur sangat mudah kalau berbicara urusan apa saja dengan siapapun, kecuali perbincangan tersebut menyangkut soal politik. Mulai dari berbicara persoalan kebudayaan, agama, sosial, seni dan lainnya sangant terbuka, namun ketika menyentuh politik, Gus Dur sangat berhati-hati.

Gus Dur juga, masih menurut Sobari, pada dasarnya dia sangat mudah percaya pada orang meskipun dia baru saja mengenalnya. Gus Dur tidak mudah curiga terhadap orang asing sekali pun. Gus Dur juga terkenal sebagai presiden yang suka blak-blakan dan ceplas-ceplos. Pokonya, di luar urusan politik, Gus Dur sangat mudah diajak dialog. Apalagi dia orangnya terkenal suka sekali bercanda.

Selain itu, dalam komunikasinya, Gus Dur sering menggunakan pola komunikasi yang bersifat mengancam. Pada akhirnya menuai banyak musuh karena pola komunikasi ini tidak selalu bisa dipergunakan dengan baik.  Ini menjadi kelemahan terbesar Gus Dur dalam hal komunikasi, yaitu gemar sekali melemparkan tuduhan yang belum jelas kebenarannya. Sebab salah satunya dia mudah mempercayai orang dekatnya.

Komunikasi bernada ancaman itu misalnya bagaimana kemudian ketika Gus Dur hendak dilengserkan dari tampuk kekuasaan tertinggi di negara ini, dia menyeruhkan ancaman terhadap ketua DPR Akbar Tandjung bahwa, jika dirinya dilengserkan, akan banyak daerah di Indonesia yang akan memerdekakan diri.

Dijelaskan pula, bahwa pola pemimpin Gus Dur  cenderung yang informal. Mungkin hal ini tidak lepas dari basic Gus Dur sebagai seorang kiai dan juga sebalumnya aktif di LSM, sehingga pola kepemimpinannya tidak terlalu formal. Dalam buku yang ditulis Tjipta tersebut, Rizal Ramli menceritakan kalau Gus Dur kadang memanggil dalam urusan kerja itu pada jam yang tidak ditentukan, seperti pukul setengah 5 pagi. Dan juga bagaimana Gus Dur jam 10 pagi malah tidur, padahal rapat kabinet biasanya berlangsung pukul 10 siang.

Dalam kesimpulannya, Tjipta menyatakan bahwa, pola kepemimpinan melalui komunikasi Gus Dur pada dasarnya sangat terbuka, demokratis tapi kadang cenderung diktator jika mengingat dirinya sebagai kiai. Tidak pernah pusing atas omongan atau kritik orang lain. Berbeda dengan Soekarno dan Soeharto yang anti kritik dengan caranya sendiri-sendiri.

Dari aspek demokrasi, menurut Tjipta, Gus Dur sebenarnya pemimpin yang paling baik. Dia amat toleran, terbuka dalam merespon pendapat dalam arti sesungguhnya. Dia juga berani dengan tegas mengecam siapa saja yang dianggap mau melakukan tindakan anarkis. Sebagaimana orang yang mau melengserkan jabatannya dari presiden, atau ketika harus bertarung dengan Abu Hasan dalam Mukhtamar NU tahun 1994, dimana Gus Dur menghendaki untuk terus memimpin NU. Hal tersebut diperkirakan Tjipta karena dia adalah seorang kiai, paling tidak suka dijatuhkan atau terganggu eksistensinya.

Dalam hal Model kepemimpinan, Gus Dur cenderung sangat delegatif terhadap menteri. Artinya, Gus Dur sudah memberikan kewenangan dan kekuasaan dirinya sebagai presiden kepada para menteri-menterinya. Sehingga, jika ada ada persoalan yang menyangkut kementerian masing-masing, Gus Dur merasa tidak perlu untuk diajak berunding lagi dan keputusan itu bisa selesai di menteri.

Bahkan Ryaas Rasyid mengatakan kalau Gus Dur (dan juga Megawati) sebenarnya tidak memerintah. Rasyid menganggap Gus Dur tidak memerintah atas dasar besarnya delegasi kekuasaan yang didistribusikan kepada para menteri-menterinya tersebut. Hal penting lainnya adalah nyaris tidak pernah menyinggung visi-misi dalam pidatonya.

Terkait kelemahan komunikasi politik Gus Dur adalah  terlalu banyak bicara, inkonsistensi, suka mencampuraduk yang serius dan guyon. Sering memberikan pernyataan kontriversial di media yang belum tentu kebenarannya. Sampai muncul pernyataan dari para politisi, kalau Gus Dur ngomong gak usah terlalu didengerin.

Melihat penjelasan tersebut, Pemimpin seperti ini akan kekurangan kepercayaan dan kredibilitas. Pernyataan yang inkonsistensi akan membingungkan para bawahannya dalam memahami kehendak Gus Dur. Selain itu, sebagaimana disinggung di awal tulisan, sebagai seorang pemimpin adalah memberikan pengaruh besar hingga pada mempengaruhi rival-rival politiknya untuk mau mendukung kebijakannya.

Perlu diceritakan sebelumnya bahwa Gus Dur juga gagal memberikan ancamannya terhadap Megawati Soekarno Putri. Atau Gus Dur gagal bisa memberikan pengaruhnya pada wakilnya sendiri meskipun telah menggunakan ancaman. Sebagaimana diceritakan dalam bukunya Tjipta, dalam Sidang Kabinet 25 Mei 2001, Gus Dur menawarkan jalan kompromi, dengan formula: wakil presiden siberikan executive power untuk memberikan kewenangan roda kekuasaan pemerintahan sehari-hari, dan aka nada perubahan cabinet yang nanti akan memberikan tambahan kursi bagi partai-partai politik.

Namun Gus Dur meminta Megawati untuk menghentikan Impeachment MPR atas presiden. Jika tidak Megawati tidak bersedia, Gus Dur akan memberikan dekrit presiden. Namun, Megawati tidak menggubris tawaran dan ancaman Gus Dur tersebut, Pada akhirnya melalui Sidang Istimewa MPR, Gus Dur tetap dilengserkan.

Dari sisi sini kemudian jika mengaca pada bagaimana kepemimpinan efektif bagi Gus Dur, bisa dinilai Gus Dur kurang bisa memenuhi indikator sebagai pemimpin efektif. Sebab, Gus Dur kurang bisa membangun kepercayaan banyak orang, baik dari loyalisnya maupun dari para rival politiknya.

Sedekomokratis apapun kepemimpinan Gus Dur, sekebal apapun Gus Dur tidak mendengarkan kritik dari rival-rivalnya (meskipun dalam situasi tertentu Gus Dur sangat geram, terutama menyangkut persoalan penyopan jabatan) atau sehebar apapun Gus Dur memberikan ancamannya terhadap musuh politiknya, Gus Dur tetap pada akhirnya tidak bisa mempertahankan posisinya sebagai presiden.

Kesimpulan

Kepemimpinan adalah persoalan bagaimana seseorang dapat mempengaruhi bawahan atau banyak orang untuk mempercayai pribadi pemimpin tersebut, trust tersebut akhirnya mengantarkan seorang pemimpin untuk menjadikan dirinya pemimpin efektif, yaitu dapat menggerakkan orang lain untuk melaksanakan garis kesepakatan yang sudah ditetapkan.

Kepemimpinan presidensial merupakan bagian khusus dari kajian kepemimpinan politik. Kepemimpinan presidensial yang fokus pada bagaimana personalitas seorang presiden mendayagunakan kekuasaanya menjadi faktor penting keberhasilan sistem presidensial.

Dalam hal kepemimpinan presidensial efektif, Gus Dur dapat dinilai kurang bisa menjadi pemimpin efektif karena pada akhirnya Gus Dur mengalami degradasi kepercayaan banyak orang atas dirinya. Atau bagaimana kemudian melalui berbagai model komunikasinya Gus Dur kurang berhasil membuat orang percaya pada dirinya untuk terus memegang jabatan presiden.

Daftar Rujukan

  1. Lesmana, Tjipta. 2009. Dari Soekarno Sampai SBY. Jakarta: PT Gramedia Utama.
  2. Muluk, Hamdi. 2014. “Demokrasi Presidensial dan Kepemimpinan Presidensial”. dalam Jurnal Prisma 18, Vol. 35, No. 3 Tahun 2016 halaman 104-114.

*Tulisan ini merupakan ringkasan tugas makalah mata kuliah Kajian Kepresidenan, FISIP UNAIR, November 2018 yang merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s