Analisis Pola Kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Prespektif Presidensial Efektif (Bagian 1-2)

Sumber Gambar: Flickr.com

Analisis Kepemimpinan menjadi kajian yang penting dalam sangkut pautnya dengan kajian kepresiden secara luas, seperti melingkupi perbandingan sistem presidensial dan parlementer, desain kelembagaan, hubungannya dengan sistem kepartaian dan lain-lain. Terutama kepemimpinan di dalam sistem presidensial lebih banyak menyoroti pribadi seorang presiden daripada kepemimpinan presiden dalam sistem parlementer.

Sebab, presidensial mengandaikan sebuah kekuasaan yang terpusat dalam diri seorang presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, sehingga sosok pribadi seorang presiden turut pula penting dikaji dalam hal bagaimana di mendayagunakan kekuasaan luar biasanya tersebut.

Sehungga, sebagaimana dijelaskan Hamdi Muluk, faktor kepemimpinan presiden menjadi salah satu penyebab yang tidak bisa ditinggalkan dalam kaitannya menilai berhasil atau tidaknya sistem presidensial, tentunya di luar faktor konstitusional dan tata kelembagaan.

Sebelum berbicara tentang bagaimana Presiden Abdurrahman Wahid dalam prespektif kepemimpinan efektif, penulis akan menjabarkan secara singkat makna kepemimpinan, kepemimpinan efektif dan juga bagaimana secara spesifik kepemimpinan presidensial.

Sebelum berbicara tentang bagaimana Presiden Abdurrahman Wahid dalam prespektif kepemimpinan efektif, penulis akan menjabarkan secara singkat makna kepemimpinan, kepemimpinan efektif dan juga bagaimana secara spesifik kepemimpinan presidensial.

Kepemimpinan Efektif dan Kepemimpinan Presidensial

Dalam pembukan bukunya yang berjudul “Dari Soekarno Sampai SBY” (2009), Tjipta Lesmana  memberikan penjelasan terkait bagaimana seorang pemimpin bisa dianggap sebagai pemimpin yang efektif. Mengutip penjelassan Garderner, Tjipta menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu melahirkan kepercayaan terhadap orang yang dipimpinnya.

Sebab, ketika pemimpin mampu membuat bawahannya dipercaya, besar kemungkinan pemimpin tersebut akan mampu menciptkan atau menggalang kerjasama dengan berbagai unsur di masyarakat, termasuk dari kelompok yang tidak menyukai dirinya.

Selain itu, masih menurut Tjipta, salah satu cara bagaimana seorang pemimpin dapat menuai kepercayaan tergantung kepawaian berkomunikasinya. Selaras dengan penjelasan John Baldoni yang menyatakan, “So in every real sense, leadership effectivesss, both presidents and for anyone in a position of authority, depend to a high degree upon good communicatin skills” (Baldoni, 2003dalam Lesmana, 2009:XIII). Melalui kemampuan berkomunikasi, seorang pemimpin dapat membangun kepercayaan rakyat atau pengikutnya atas dirinya.

Ringakas kata, pola kepiawainnya komunikasi seorang pemimpin akan dapat menciptakan trust terhadap dirinya. Ketika kepercayaan itu ada, maka seorang pemimpin dapat mendayagunakan kepemimpinannya dalam menggalang dukungan untuk mencapai pada tujuan yang dikehendaki.

Baca Juga: Desentralisasi dan Komitmen atas Penerapan Prinsip Sistem Ekonomi Neo-Liberal (Bagian 1)

Selaras dengan penjelasan-penjelasan di atas, kepemimpinan, menurut pendapat Gardner yang dikutipp Tjipta, disini didefiniskan sebagai “is a process of persuasion of example by which an individual (or leadership team) induce a group to pursue objectives held by the leader or shared by the leader and his or her follower” (Ibid).

Singkatnya, kunci keberhasilan kepemimpinan, atau pemimpin yang efektif ditentukan oleh bagaimana dia bisa melakukan persuasi atau bujukan yang tujuannya menciptakan bawahannya memiliki trust terhadap dirinya, atau dapat memberikan motivasi bagi bawahan untuk melaksanakan tujuan dari yang telah ditetapkan bersama. Tanpa adanya kepercayaan, akan sulit pemimpin menggerakkan bawahannya.

Beranjak pada ulasan berikutnya, apa keterkaitan kajian kepemimpinan dengan kajian kepresidenan, lebih tepatnya apa urgensi kajian kepemimpinan secara umum dengan kepemimpinan bagi penerapan sistem presidensial?

Hamdi Muluk melalui tulisan yang berjudul “Demokrasi Presidensial dan Kepemimpinan Presidensial (2014)”, memberikan penjelasan bahwa keberhasilan suatu sistem presidensial bukan hanya ditentukan oleh desain konstitusional atau kelembagaan sistem presidensial semata, namun juga ditentukan oleh aspek kepemimpinan personal seorang presiden yang merupakan bagian dari kekuasaan politik itu sendiri.

Hamdi Muluk menyatakan, pengertian kepemimpinan presidensial adalah “kemampuan seorang presiden mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki (modal, uang, institusi, konstituen, pengaruh) dalam upaya mewujudkan seluruh gagasan dan tujuan politik yang dicanangkannya secara terbuka” (Muluk, 2014).

Titik tolak pembacaan Hamdi Muluk ingin menjelaskan persoalan di luar perdebatan antara sistem presidensial VS parlementer yang terus menerus diperbincangkan, namun ada aspek lain yang turut pula  berpengaruh besar terhadap keberhasilan suatu sistem pemerintahan, dalam hal ini khususnya sistem presidensial. Lebih jauh lagi kemudian Hamdi menjabarkan beberapa asumsi dasar yang menjadikan kajian kepemimpinan mendapatkan urgensinya untuk ditelaah dalam faktor keberhasilan suatu sistem presidensial. yaitu :

Pertama, dalam sistem presidensial, seorang presiden adalah kepala pemerintahan dan juga agen politik yang kekuasaannya bersifat sentral. Berbeda kemudian dengan sistem parlementer dimana presiden harus berbagi kewenangan dengan parlemen. Di sini kemudian personal seorang presiden menjadi muara perhatian, baik publik maupun elit politik lainnya dalam segala kebijakan.

Sehingga, benar kemudian dikatakan, dalam hal pemilihan presiden di negara memberlakukan sistem presidensial, harus benar-benar menempatkan orang yang tepat sebagai pilihan publik.

Selain sistem presidensial menghendaki seorang presiden relatif aman dari upaya-upaya pemberhentian sebagaimana di parlementer yang rawan terjadi, seorang presiden juga diukur atau ditakar oleh public dalam pemilihan berdasarkan pada aspek personalitas presiden, dengan sering mengacuhkan partai pengusung dan sebaginya. Di sini kemudian personalitas kepemimpinan seorang presiden dalam sistem presidensial menjadi penting untuk dipahami.

Kedua, perkembangan mutakhir di Indonesia lebih mendukung penguatan sistem presidensial. Termasuk juga kultur partai politik juga mengiyakan terhadap penguatan sistem presidensial daripada menguranginya. Artinya, kecenderungan terhadap “personalisasi politik” di dalam tubuh partai semakin besar. Maka, disini kemudian peran partai semakin tereduksi dan yang semakin menguat adalah peronalisasi seseorang di dalam partai, atau ketua partai itu sendiri yang kemudian digadang jadi presiden.

Terakhir, perkembangan di dalam analisis-analisis ilmu politik dewasa ini yang membaca sistempresidensial  semakin melibatkan perkembangan dari masuknya ilmu-ilmu analisis psikologi. Atau, bidang-bidang kajian ini semakin menemukan titik pertemuan di dalam membahas aspek presidensial dalam sorotannya terhadap personalisasi kepemimpinan. Akhirnya, kepemimpinan presidensial sebenarnya merupakan bagian dari diskursus kepemimpinan atau lebih spesifik kepemimpinan politik (Ibid).

Baca Juga: MEMAHAMI TANTANGAN FUNDAMENTALISME MODERN

Selanjutnya, Hamdi menjelaskan beberapa pendekatan untuk membaca kepemimpina presidensial. Dia juga menjelaskan, bagaimana hasil dari analisis kita terhadap sebuah efektifitas kepemimpinan presidensial tergantung pada pendekatan dan teori yang kita gunakan.

Lekat kaitannya dengan penjelasan yang diuraikan Tjipta Lesama di awal tulisan, dalam kajian kepemimpinan presidensial, Hamdi juga menjelaskan bahwa yang pertama kali menjadi peletak dasarnya adalah Richard Neustadt, yang menyatakan fokus analisis kepemimpinan presiden pada “kemampuan persuasi seorang presiden dalam pertarungan merengkuh suara rakyat dan, yang terpenting memenangi pertempuran politik untuk mengegolkan kebijakan” (Ibid: 112). Dengan kata lain, kepemimpinan presidensial tolak ukurnya berada pada “bagaimana seorang presiden memupuk pengaruh dan kekuasaan serta memanfaatkannya dalam praktek kepresidenan”.

Beranjak dari apa yang telah dijelaskan dari awal hingga yang terakhir, dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba menguraikan efektifitas kepemimpinan dari segi bagaimana kemampuan seorang presiden bisa memberikan pengaruhnya untuk bisa mencapai tujuan pemanfaatan dalam praktek kepresidenan, dengan ukuran bagaimana presiden tersebut dalam hal kemampuan komunikasinya yang mampu memupuk pengaruh dan kekuasaan dalam memberdayakan sistem presidensial.

*Tulisan ini merupakan ringkasan tugas makalah mata kuliah Kajian Kepresidenan, FISIP UNAIR, November 2018 yang akan dibagi menjadi dua tulisan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s