IBU SAYA SEORANG AKTIVIS

Para anggota parpol dan LSM berhak menjadi aktivis. Beragam orang yang tergabung dalam asosiasi mulai dari konglomerat sampai kelompok sosial pekerja tertentu juga berhak menjadi aktivis. Apalagi mahasiswa, pasti sangat amat berhak menyandang predikat itu. Kalau mau. Pokoknya semua orang diperbolehkan menjadi aktivis apa pun itu, entah memperjuangkan kepentingannya sendiri, kelompoknya, kepentingannya, atau bahkan memperjuangan rakyat secara luas (tergantung pendefinisan mereka terhadap kata “rakyat” secara subjektif). Tentu perjuangan seorang aktivis tidak bisa disamaratakan. Tergantung kapasitas jangkauan dan luasnya kepentingan posisi sosial seseorang.

Namanya juga era kebebasan bereskpresi. Bebas saja merjuangkan apa yang dirasa kurang terwakili. Bebas juga berpendapar bahwa DPR tidak mewakili kepentingan kita. Bebas. Hal ini juga wajar. Wajar karena mungkin pemaknaan keterwakilan kepentingan hari ini tidak secara sempurna diakomidir oleh para anggota dewan. Jadi, para aktivis dalam beragam lini kehidupan menjadi alternatif penyuaraan suara di luar saluran representatif institusional semacam eksekutif dan legislatif.

BACA JUGA: PERAN CIVIL SOCIETY DI ERA DESENTRALISASI

Kembali soal semua orang berhak menjadi aktifis. Maka, Ibu saya juga berhak menjadi aktivis, begitu pun saya. Bedanya, kalau saya menyandang predikat mahasiswa, maka terlihat sedikit agak biasa saja dan lumrah. Scopenya jelas, pasti digarap soal-soal semacam ketidakadilan, rezim yang dholim, korupsi dan seterusnya. Lah, ibu saya cuma seorang ibu rumah tangga dan pekerja keras di rumah. Apa yang diperjuangkan ibu? Begini ceritanya (transkrip percakapannya saya bahasa Indonesiakan dari Jawa ya):

“Din, tahu Mbah Lam sama Mak Sri, Yan?” Tanya ibu beberapa hari kemarin. “Nggeh Buk. Dua-duanya janda yang sama-sama berlatarbelakang ekonomi kebawah”. Jawab saya.

“Lah, iku masalahnya. Kemarin pas pembagian Raskin, Mbah Lam sama Mak Sri nggak dapat. Malah keluarga kita yang dapat”.

“Terus jenengan terima beras itu?” Tanyaku

“Nggak lah! Namanya nggak bersyukur sama rejeki yang sudah sangat cukup diberikan Tuhan kepada kita”.

“Terus gimana? Kok bisa malah kita yang dapet?”

“Lah iya, akhirnya sama Ibu tak tanyakan Pak To (perangkat Desa) kok bisa mereka gak dapat dan malah kita yang dapet. Ini sudah sering salah sasaran. Ya, tak protes dan tak minta supaya perangkat Desa mau benerin data yang bener…”. Ibu memberikan penjelasan.

Selanjutnya ibu menceritakan usahanya dalam memperjuangkan supaya dua janda di dusun saya tersebut mendapatkan jatah yang semestinya. Mulai dari ngelobi perangkat sampai agak sedikit meninggikan suara untuk menunjukkan keseriusan tuntutannya itu kepada Pak To. Alhamdulillah, akhirnya sekarang mereka berdua sudah mendapat jatah bantuan rutin dari pemerintah tersebut.

Pada kesempatan yang lain, ibu juga pernah menceritakan pada saat itu dusun kami sedang mau mengadakan syukuran Desa. Hajatan itu akan dimeriahkan dengan mengadahkan dangdutan koplo. Untuk menanggung pembiayaan acara, semua penduduk dusun diharuskan membayar iuran sebesar 50 ribu. Lagi-lagi cerita kurang sedap menimpah Mak Sri, dengan keterbatasan ekonomi yang pas-pasan dari upah pijat panggilan, dia didatangi perangkat untuk dimintai iuran.

Pada saat itu, Mak Sri hanya punya 30 ribu. Dan sisanya beberapa hari kemudian baru dibayar setelah dia mendapat pelanggan pijat. Kekurangan iuran itu kemudian diantarkan oleh Mak Sri ke rumah perangkat Desa. “Mak Sri iku kan orangnya gampang takut berhadapan sama orang. Jadi langsung dibayar begitu dapat uang”, kata ibuku.

Setelah mengetahui hal itu, lagi-lagi ibu saya coba menegur perangkat Desa yang mewajibkan setiap orang membayar iuran itu. “Lah wong, orang kayak Mak Sri itu besok makan apa masih bingung kok. Malah ditarik iuran Desa. Buat nanggap orkes lagi”. Setelah kena semprot ibu saya, akhirnya perangkat Desa itu mengembalikan uang iuran kepada Mak Sri. Masih banyak cerita-cerita lain yang tidak bisa saya ceritakan semuanya disini.

BACA JUGA: MENDORONG KONTRIBUSI ILMUWAN SOSIAL DALAM PERUMUSAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

Kemarin saat saya mau balik ke Surabaya, ibu saya bilang begini. “Mas Rio kemarin ceria, katanya kamu habis demo beberapa kali ya. Terakhir kemarin katanya di depan Kapolda Jatim”.

Saya diam dan tidak mau menceritakan secara detail demo apa saja yang pernah saya lakukan dan apa saja tuntutannya. Entah kenapa. Mungkin karena merasa tidak sebanding saja.

Yang jelas, tiba-tiba saya teringat dialog imajinatif tentang petuah Kiai Sudrun kepada Emha Ainun Najib dalm buku “Slilit Sang Kiai” yang mengatakan, kenapa kamu tiba-tiba memusingkan persoalan manusia planet (mungkin maksutnya orang-orang dan urusan yang jauh untuk kita jangkau), sedangkan urusan ketidakadilan yang menimpah tetanggamu sendiri kamu diam saja”.

Jumat, 02 Maret 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s