REUNI 212, POPULISME ISLAM DAN HYPERNASIONALISME (BAGIAN 2-HABIS)

(Gambar: Reuni 212/Foto: Indra Komara/detikcom)

Dalam melacak populisme Islam di Indonesia, melalui buku “Islamic Populism in Indonesia and The Middle East” (2016), Vedi membandingkannya dengan fenomena keagamaan di Turki dan Mesir. Hasilnya, yang membedakan pola populisme di Indonesia adalah alpanya kelompok kelas elit borjuis yang menjadi representatif dari Islam. Hilangnya komponen terpenting terbentuknya populisme Islam ini menjadikan ledakan populisme bercirikan Islam di Indonesia tidak akan sekuat pengaruh Ikhwanul Muslimin di Mesir atau Partai AKP di Turki. Meskipun ada sontakkan besar dalam sebuah gerakan politik Islam, pada dasarnya gerakan tersebut hanyalah letupan hasil dari persengkokolan identitas Islam tertentu dengan para elit borjuis atau oligharki di Indonesia yang telah mapan.

Sebenarnya Hadiz disitu juga menjelaskan bahwa, gerakan politik Islam tidak akan sehebat pengaruh Ikhwanul Muslimin yang bisa menguasai civil society dan gerakan oposisi yang luar biasa di Mesir. Alpanya borjuis atau simpelnya orang terkaya atau pemegang oligharki politik di Indonesia yang merupakan representatif dari kelompok Islam menjadikan gerakan Islam hanya menjadi gerakan yang bersifat momentum saja, tidak akan bisa mengambil kendali kehidupan politik dan sosial secara paten.

Meskipun menurut Vedi Hadiz hilangnya satu komponen utama dalam terbentuknya populisme Islam di Indonesia, menurut penulis, apa yang kemudian mencuat ke permukaan hari ini sudah bisa menggambarkan kemunculan populisme Islam itu sendiri. Terlepas meskipun populisme reaksioner atas kebutuhan elit oligharki tetap lekat kaitanya. Toh, banyak juga orang yang kemudian berdatangan dalam acara Bela Islam dengan mandiri atau karena panggilan jiwa keagamaan. Alhasil, mobilisasi oligharki terhadap Bela Islam melalui instrument politik identitas keagamaan masih terbuka untuk diperdebatkan. Sekali lagi, terlepas dari pertarungan oligharki yang terjadi, “Aksi Bela Islam” menjadi penanda penting bahwa ada kekuatan populisme Islam yang secara faktual melawan elit yang sedang mapan. Dan, hari ini populisme Islam kekuatannya masih dipertahankan serta sangat nampak di permukaan.

Berangkat dari berbagai penjelasan singkat tersebut, penulis mengaitkan pemaknaan populisme Islam dengan Gerakan Reuni 212 sebagai gerakan protes masyarakat yang direkatkan oleh faktor utamanya dengan simbol dan identitas agama Islam untuk mengambil posisi oposan terhadap pemerintah hari ini.

BACA JUGA: NASIONALISME SEBAGAI BERHALA DI BUMI INDONESIA

Sedangkan untuk istilah “hipernasionalisme” lagi-lagi juga dimunculkan Vedi Hadiz dalam membaca gejolak politik identitas yang menyeruak pada Pilkada Jakarta kemarin. Hadiz menilai pemerintah dalam merespon politik identitas keagamaan terlalu kelihatan panik dan akhirnya terkesan berlebihan. Hipernasionalisme, menurut Vedi Hadiz, ditandai dengan kembalinya diskursus orde baru melalui Pancasila dan stabilitas nasional dengan negara terintegrasi (Nasional.tempo.co, 2017). Identitas semacam nasionalisme dipergunakan untuk meredam aksi masa politik identitas yang terus berkembang. Tentang hypernasionalisme yang kini dilakukan pemerintah, penulis menyepakati secara keseluruhan apa yang dijelaskan Hadiz.

Hypernasionalisme disini dapat dilihat dari berbagai upaya pemerintah melakukan propaganda semacam, “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, “72 Tahun Bekerja Bersama”, dan seterusnya. Jargon-jargon dan propaganda yang dilakukan pemerintah tersebut menimbulkan kesan, seperti pernah dikatakan Rocky Gerung berisi, “Saya Nasionalisme, dan kamu fundamentalisme!”.

Penulis mengartikan hipernasionalisme disini sebagai upaya peneguhan berlebihan atas identitas nasionalisme yang berimplikasi pada pembungkaman, atau tidak adanya pengakuan terhadap besarnya kekuatan sosial-religius Islam yang ada di Indonesia. Atau, bagaimana identitas nasional sebagai upaya pemenuhan kestabilan politik dipaksakan sehingga tidak memberikan ruang bagi realitas faktual kekuatan keagamaan di Indonesia.

Hypernasionalisme sebagai Respon Yang Salah!

Peneguhan identitas yang mampu menghadirkan begitu banyak massa tersebut bukan digerakkan oleh kesadaran nasionalisme dan semacamnya, melainkan dapat digiring melalui identitas keumatan dengan simbol kitab suci, semacam tanggungjawab moral keagamaan karena merasa simbol agamanya disinggung. Betapa kuat dan mengakarnya doktrinasi umat sehingga ada pula yang menganggap konsepsi umat hari ini dapat menyaingi konsep kewarganeraan. Kesadaran identitas diri seseorang sebagai bagian dari komunitas besar dan luas dari agama tertentu, khususnya Islam dalam pembahasan ini akan lebih mengakar kuat dibanding internalisasi-internalisasi kesadaran semacam kewarganegaraan, nasionalisme dan seterusnya.

Di sisi lain, akumulasi kekhawatiran kuatnya propaganda politik Islam dengan jargon umat, yang bisa berpotensi mengakibatkan melemahnya sensitifitas kesadaran simbol-simbol persatuan kenegaraan yang dibangun atas dasar nasionalisme dan kebhinekaan, mendapat respon besar dari para petinggi negara. Perppu tentang Ormas yang baru saja diterbitkan belakangan dapat dibaca melalui hal ini. Kiranya penulis perlu segera mengetengahkan, penulis tidak memungkiri adanya konstruksi pembelahan yang bersifat kontradiktif atas dikotomi nasionalisme VS Islam menjadi momok yang terkesan berlebihan.

Di sini kemudian apa yang dilakukan pemerintah dengan terus-menerus mendiskreditkan gerakan politik identitas Islam dengan cara-cara hypernasionalisme akan semakin memperbesar konflik yang terjadi. Propaganda-proganda nasionalisme sama sekali tidak bisa dipertentangkan atau menggantikan identitas fitrah seseorang dengan ikatannya terhadap negara.

Semakin parah pemerintah menampakkan permusuhannya terhadap kebangkitan populisme Islam, maka akan semakin kuat solidaritas di dalam gerakan Islam tersebut sebagai kekuatan kritik terhadap kemapanan elit politik yang berkuasa hari ini. Implikasi lebih jauh kemudian yang terjadi di masyarakat adalah konflik-konflik atau permasalahan yang semakin menajam atas klasifikasi yang kini terjadi. Apalagi masyarakat harus dihadapkan atas pilihan yang serba dilematis, apakah dia kelompok pendukung nasionalisme, berarti dia tidak Islam dan masuk neraka, atau dia adalah kelompok barisan Islam, sehingga dia bermusuhan atau dianggap berlawanan terhadap kebhinekaan, multikultural dan seterusnya.

Penutup

Acara Reuni 212 tidak bisa dilepaskan dari perstiwa serial demonstrasi protes besar umat Islam yang menganggap Ahok telah melecahkan Al-Quran. Rentetan fenomena gerakan umat Islam yang turut mewarnai Pilkada Jakarta kemarin, hingga hari ini masih bisa dibaca sebagai keberlanjutan pertarungan politik yang memanfaatkan dua identitas dikotomik tajam antara nasionalisme versus Islam.

Islam disini penulis identifikasikan sebagai gejala kuat kemunculan atau kebangkitan populisme Islam di Indonesia, terlepas dari kepentingan politik yang melatarbelakanginya. Populisme Islam menjadi kekuatan oposan penting dalam melawan penguasa politik hari ini. Di sisi lain, pemerintah memberikan respon terhadap menguatkan kekuatan politik identitas yang cenderung hypernasionalisme. Respon pemerintah ini akan semakin memperuncing permasalahan yang kini terjadi. Sebab, loyalitas terhadap identitas keagamaan tidak akan bisa disebandingkan dengan loyalitas semacam nasionalisme. Akibatnya, gejolak antara kebangkitan populisme Islam melawan sikap pemerintah yang hypernasionalisme akan semakin menimbulkan masalah di masyarakat.

Daftar Rujukan

Buku dan Jurnal

  1. Corduwener, Pepijn . “The Populist Conception of Democracy beyond Popular Sovereignty”. Journal of Contemporary European Research Volume 10, Issue 4 (2014).
  2. Hadiz, Vedi R. 2016. Islamic Populism in Indonesia and The Middle East. UK: Cambridge University Press.
  3. Stenley, Ben. “The Thin Ideology of Populisme”. dalam Jurnal of Political Ideologies, Februari 2008, 13(1).

Internet

  1. “Ketua MUI Soal Reuni 212 Sifatnya Lebih ke Agitasi”. dalam http://.detik.com/news/berita/d-3751588/ketum-mui-soal-reuni-212-sifatnya-lebih-ke-agitasi (Diakses tanggal 09 Desember 2017 pukul 20.54 WIB)
  2. “Reuni Aksi 212 dan Orang-orang dalam Pusarannya, Dimana mereka Sekarang?” http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42191751 (Diakses tanggal 09 Desember 2017 pukul 20.46 WIB).
  3. “Vedi Hadiz: Oligarki Kendalikan Konservatisme Islam di Indonesia” dalam http://nasional.tempo.co/read/909736/vedi-hadiz-oligarki-kendalikan-konservatisme-islam-di-indonesia. (diakses tanggal 09 Desember Oktober 2017, pukul 21.36 WIB).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s