BAGAIMANA LOGIKA MEMAHAMI WUJUD TUHAN?

(Gambar: halaman pertama kitab “Aqidatul Awam” karangan Syekh Ahmad Marzuqi versi gandul Jawa Pegon yang dikaji penulis saat masih di pesantren dulu. Biasanya diperuntukkan sebagai pengantar pelajaran Tauhid bagi pemula)

Bagi para pembaca budiman yang beberapa kali telah menyempatkan diri mengunjungi blog Ndawul Tanpa Batas mungkin pembahasan kali ini terasa aneh. Biasanya penulis membahas tentang isu-isu sosial-politik, telaah buku maupun film kadang-kadang, dan seterusnya.

Karena terlalu asyik membahas persoalan-persoalan di atas, penulis sampai lupa ada kategori bertemakan “Berkah” yang harus diisi. Itung-itung pertanggungjawaban moral sebagai alumni pondok pesantren. Kategori Berkah dalam blog ini dimaksudkan untuk konten-konten bertemakan refleksi keagamaan murni, artinya coba tidak dikaitkan terlalu jauh dengan persoalan-persoalan politik dan lainnya.

Kali ini penulis ingin membagi tulisan penulis empat tahun lalu tentang sebagaimana judul yang tertera. Tulisan ini sebagian besar diambil penulis dari catatan-catatan selama nyantri di Tambakberas Jombang. Selamat membaca, semoga berkah.


Kata alam dan alamat sebenarnya adalah Bahasa Arab yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Secara bahasa, kata “alam” berasal dari kata “alamat” yang bermakna tanda. Menurut para ahli Kalam, alam di sini maknanya adalah tanda keberadaan atau wujud Tuhan. Dalam pelajaran-pelajaran permulaan akidah sering dikatakan juga bahwa dalil aqli (dasar secara akal) keberadaan atau wujud Tuhan adalah adanya alam semesta. Berpijak pada premis ini, penulis ingin menjelaskan rentetan logika keberadaan Tuhan yang dimulai dari keberadaan alam semesta.

Kaidah pertama menyatakan bahwa alam dalam artian seluruh makhluk semesta senantiasa berubah. Jika hari ini kita melihat pohon kelapa yang berukuran enam meter, sebelumnya dia berukuran empat meter. Sebelumnya lagi berukuran dua meter dan sebelum-sebelumnya dia tidak ada. Silahkan diperluas lagi setiap contoh bahwa setiap makhluk apa pun itu memiliki padanan dalam hal sama-sama mengalami proses perubahan diri. Entah manusia, hewan, bumi dan seterusnya. Tidak ada yang memiliki bentuk secara permanen.

Selanjutnya, segala sesuatu yang mengalami perubahan atau perkembangan dari satu bentuk ke bentuk yang lain, atau satu ukuran ke ukuran yang yang lain, dapat dipastikan memiliki awal. Jika sesuatu itu memiliki awal, maka keberadaannya didahului dari ketiadaan. Sifat setiap makhluk yang senantiasa berubah memastikan atau dapat dipastikan akan adanya kerusakan dalam dirinya, mati atau sirna.

Ringkasnya begini: alam senantiasa berubah, segala sesuatu yang berubah dipastikan bersifat baru (artinya pernah ada suatu masa dia tidak ada), segala sesuatu yang baru akan mengalami kehancuran atau kerusakan. Jadi, segala sesuatu yang hari ini kita anggap ada pada dasarnya sebenarnya bermula dari ketiadaan dan sebelumnya didahului dari sesuatu yang sebelumnya ada. Sesuatu yang sebelumnya ada tersebut juga didahului dari ketiadaan dan didahului dari sesuatu yang sebelumnya ada pula. Begitu juga seterusnya.

Logika yang mensyaratkan wujud hadir sebelum adam (ketiadaan) adalah pertalian yang tidak bisa dihentikan dalam pikiran, sehingga logika ini harus diputus. Kita sah secara naluri pikiran meyakini ada dzat (wujud) tanpa didahului oleh apa pun yang mengawali segala sesuatu (qidam). Karena tidak terpenjara sebagaimana perubahan yang dialami setiap makhluk, Ia bisa bebas dari sifat kerusakan sehingga keberadaannya kekal (baqo’).

Dzat paling dahulu tersebut pastinya berbeda dengan sesuatu yang ada dan baru (mukholafatu lilkhawadisi) dan tidak tergantung pula pada runtutan yang ia jadikan ada (qiyamuhu bi nafsihi). Ia secara istilah semata mungkin memiliki padanan dengan makhluk, tapi tidak secara kesejatian. Seperti, Ia mendengar, melihat, berbicara dan hidup tanpa membutuhkan nyawa (manusia hidup membutuhkan nyawa).

Bagaimana dengan jumlah dzat terdahulu ini? Ia Esa atau berbilangan?! Jika ia tunggal, maka ia akan semakin sempurna kemampuan (qudrat) dan kehendaknya atas segala sesuatu (iradat). Namun jika Ia tidak sendiri, kekuasaan dan kehendaknya akan terbagi-bagi. Pengaturan dan kekuasaannya (dua-duanya dalam bahasa arab disebut “takdir”, yang bermakna kekuasaan atau perkiraan ukuran) alam semesta tidak akan jalan dengan seimbang, ibarat dalam pertunjukan wayang terdapat lebih dari satu dalang, alur ceritanya akan semrawut. Dzat Yang Maha Satu ini bisa kita sebut dengan Tuhan (dengan “T” besar).

Mempercayai Tuhan itu wujud (ada) bukan hanya persoalan iman semata, namun kebutuhan pikiran manusia. Orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan bukan hanya mengingkari ajaran agama, tapi mengingkari akalnya sendiri.

BACA JUGA: “PESANTREN TRADISIONAL”: PENDIDIKAN MURNI ISLAM NUSANTARA

Penjelasan yang telah dikemukakan tersebut mengantarkan pemahaman penulis bahwa Tuhan itu ada entah dengan sebutan apa pun. Sebagai orang Islam, penulis meyakini bahwa seorang manusia pilihan dari Arab datang dan bertanggungjawab mati-matian untuk menyampaikan amanat kebenaran ini. Dia adalah Nabi Muhammad SAW.  Ia juga mengkhabarkan nama Tuhan yang kita yakini adalah Allah.

Lantas,  apakah nama Allah sendiri itu sebenarnya benar-benar nama dzat yang diperkenalkan Tuhan sendiri kepada umat manusia atau hanya sebutan khusus umat Nabi Muhammad untuk Tuhan yang dianutnya? Secara iseng dan rasa penasaran, penulis coba mengotak-atik nama “Allah” dari gramatika Bahasa Arab (bersumber dari literatur kitab klasik ulama salaf), hasilnya: kalau Alif pertama nya kita buang, lafad itu masih bisa dibaca lillahi (demi, karena, bagi Allah). Kalau “Alif dan Lam”nya kita buang, bacanya “Ilahun” (tetap bermakna “Tuhan”). Kalau kita buang semua dan cuma menyisahkan lafad “Ha’ terakhir” dalam lafad Allah, huruf tersebut disebut dhomir mudzakar ghoib (kata ganti tunggal untuk orang ketiga). Ini pun masih merujuk pada Dzat Allah yang tunggal.

Terakhir, kalau kita singkirkan semua hurufnya dan cuma menyisahkan huruf awalnya saja, yakni “Alif” yang biasa dibaca “A”. Coba kita renungkan, ungkapan spontan “A” adalah ucapan yang digunakan oleh seluruh manusia di dunia ketika histeris, terkejut, kaget dan lain-lain (penjelasan ini pernah penulis dengar juga dari Prof. Quraish Shihab). Ini menunjukkan salah satu bukti dari jutaan bukti yang belum kita ketahui bahwa, eksistensi Allah sebagai Maha Pencipta sudah melekat di dalam ciptaannya.

Pada akhirnya sampai pada kesimpulan berdasarkan keterangan al-Quran, ternyata nama Allah adalah nama Dzat Tuhan yang Ia perkenalkan sendiri kepada seluruh umat manusia melalui utusanNya.

Waallahu A’lam.

 Surabaya, September 2014

Iklan

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s