SPORTIVITAS DALAM BERDAKWAH

(Gambar: Pengungsi Syiah Sampang di Sidoarjo yang belum bisa pulang ke kampung halamannya diambil dari nasional.tempo.co)

KH Musthafa Bisri (Gus Mus) dalam suatu kesempatan pernah menjelaskan, terdapat istilah Washilah (perantara/jalan) dan ghoyah (batas sebuah tujuan) di dalam dunia pesantren. Pertanyaannya sekarang, agama atau sebuah kepercayaan tertentu itu washilah atau ghoyah? Jika kita menganggap agama atau aliran tertentu adalah sebuah tujuan, berarti ketika sudah memeluk kepercayaan tertentu sudah selesailah perjalanan realigi kita. Berbeda dengan kepahaman yang meletakkan agama atau aliran adalah sebuah jalan untuk menuju “Tuhan”.

Ketika kita sama-sama memiliki pengertian demikian, seharusnya di dalam perjalanan kita menuju satu titik yang sama tidak ada pertikaian. Sebab, permasalahannya hanya berbeda jalan yang ditempuh.

BACA JUGA: KONFLIK AGAMA AKIBAT LEMAHNYA KESADARAN IDENTITAS SEBAGAI WARGA NEGARA 

Dalam konteks Islam misalnya, perbedaan itu muncul dikarenakan setiap kelompok memiliki metode dan sudut pandang sendiri dalam menafsiri Islam. Islam adalah agama yang multitafsir pemahamannya tergantung situasi, kondisi, lokasi dan kadar intelektual penerjemah Islam itu sendiri. Yang perlu digaris bawahi, wilayah kebebasan dalam menafsiri Islam itu pemetaannya lebih luas daripada keterbatasannya. Hal yang menyangkut subtansial dalam ajaran Islam (Ashl), semisal keimanan terhadap Allah (masuk domain teologis) tidak bisa diintepretasikan ulang atau mutlak. Berbeda dengan pembahasan cabang-cabang dari khazanah keislamaan, semisal domain sosial dan kebudayaan yang masih longgar untuk mencari fleksibelitasnya.

Berkaitan dengan hal di atas, tepatlah kemudian KH Abdurrahman Wahid pernah mempopulerkan istilah “Ukhuwa’ Imaniyyah” (persaudaraan sesama Iman) yang menggantikan istilah “Ukhuwa’ Islamiyah” (persaudaraan sesama Islam). Gus Dur menyatakan, secara praktek beragama akan banyak ketidaksamaan dalam penerapannya. Maka, kurang tepat jika dikatakan persaudaraan sesama Islam, namun keyakinan kita terhadap akar dari ajaran Islam yang berupa Iman tetaplah sama, kita bisa terikat dalam satu akidahyang sama (Ukhuwa’ Imaniyah).

Kembali pada persoalan ghoyah dan washilah tadi, sangat tidak dibenarkan bagi seseorang mengklaim kelompoknyalah agama yang paling benar dan yang lain adalah sempalan-sempalan Islam yang salah! Jika memang ada ketidakcocokan dalam beragama, seharusnya para pemuka agama di dalam kedua belah pihak mendiskusikan hal itu. Menutup diri dengan kepahaman yang dianggap saling berseberangan ini adalah pemicu bagi kita untuk menghalangi diri kita sendiri dari wacana dan ilmu baru, sekaligus menandakan jangan-jangan kita telah meletakkan agama dan keyakinan kita sebagai ghoyah, bukan lagi washilah.

Beberapa kejadian keagamaan belakangan ini paling tidak menunjukkan hal tersebut. Ketika Indonesia kedatangan tamu dari luar yang ingin mengajak kita untuk mendiskusikan pemikirannya, Irsyad Manjhi harus menelan pil pahit karena acaranya dibatalkan oleh Rektor UGM Sudjarwadi. Penolakan serupa, yang lebih bersifat anarkis, terjadi saat bukunya, “Allah, Liberty and Love” hendak dibedah di Salihara, Utan kayu Jakarta. Massa yang mengatasnanamakan dirinya Front Pembela Islam menolak Manjhi dengan “keras” karena dianggap menyebarluaskan paham gay dan lesby.

Kejadian ini benar-benar mencoreng wajah Indonesia yang dianggap bangsa yang moderat, sikap hidup damai di tengah perbedaan dan mampu menampung pemikiran baru. Mungkin Manjhi memilih Indonesia karena dianggap disini umat Islamnya sangat terbuka terhadap pemikiran luar dan siap berdiskusi.

Harus pula dikatakan, memang sudah menjadi kesepakatan mayoritas ulama sejak dulu, bahwa gagasan Manjhi tentang penghalalan hubungan sesama jenis di dalam hukum Agama Islam ditolak. Sah-sah saja kita mengikuti pendapat demikian. Begitu juga sah bagi Manjhi berideologi Islam liberal dan bahkan tak suka Islam sekali pun, tetapi ini adalah ranah intelektual. Permasalahannya bukan pada pemikirannya tetapi pada mental kita dalam menyikap perbedaan. Seharusnya, bukunya harus tetap diapresiasi, dikritik dan menjadi bahan diskursus. Kita diskusikan kegelisahan Irsyad Manjhi sehingga kita bisa menanggapinya dengan cara yang berpendidikan. Siapa tahu dengan adanya diskusi itu Irsyad Manjhi bisa mendapat kepahaman baru sehingga dia merubah pemikirannya. Atau juga berlaku sebaliknya, kita yang menganut pemikiran dia.

Namun, kita tidak memiliki mental untuk menerima perbedaan. Kita terlalu takut iman kita terusik dengan datangnya tawaran pemikiran baru. Salah satu sebab orang yang mudah kaget dan kawatir kadar iman dan ketakwaannya menurun atas apa saja yang terjadi, berarti itu menunjukkan masih lemahnya iman orang tersebut. Seberapa hebat apa pun tawaran ideologi atau pemikiran baru tidak akan ada artinya jika dihadapkan dengan pikiran kita yang merdeka.

Masih cukup segar juga diingatan kita tentang tragedi memilukan tentang perselisihan Syi’ah dan Sunni di Madura. Perilaku diskriminasi terhadap keyakinan yang dianggap minoritas berujung perlakuan yang tidak manusiawi. Kejadian yang hingga menjatuhkan korban yang beruntun pengusiran kelompok Syi’ah dari kampung halamannya sendiri. Jika persaudaraan sesama orang Islam saja tidak bisa digalang, bagaimana kita bisa menjalin persaudaraan antar agama? Jika persaudaraan antar agama saja tidak bisa diwujudkan, bagaimana kita bisa menjalin persaudaraan berbangsa dan bernegara? Lebih jauh lagi mengatakan, jika persaudaraan berbangsa dan bernegara saja sudah kewalahan, bagaimana kita bisa membangun persaudaraan sesama manusia?

Semua kejadian anarkis yang membawa embel-embel agama sebagai bahan bakar motifasi bagi pelakunya harus kita sikapi dengan serius. Ini bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah sebagai penyelenggara negara ketika sudah pada taraf kriminalitas, tetapi keterlibatan pemuka agamanya sebagai bentuk tanggungjawab moral dan agama. Para pemimpin, pemuka dan golongan pembesarnya harus membuka selebar-lebarnya ruang diskusi. Forum dialog terbuka bukan bertujuan untuk merumuskan bersama pluralisme teologis, tapi sebagai wadah silaturahmi pemikiran antar golongan dengan tujuan terbangunnya kemesraan irama hidup yang warna-warni.

***

Kaprahnya, setiap kepercayaan atau ideologi apa pun pasti mengharapkan kemajuan dan perkembangan kualitas dan kuantitas masing-masing golongannya yang dianut. Mereka sama-sama merasa perlu memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Taruhlah Anda penganut aliran A, Anda memiliki keyakinan penuh hanya dengan jalan A lah kebahagian dapat diperoleh. Begitu juga dengan keyakinan yang ada pada saudara kita, penganut aliran B, dia memiliki asumsi yang sama terhadap keyakinannya. Jika kelompok A memahami perlu mendakwakan dan menyebarluaskan kebenarannya, di sisi lain, kelompok A harus menyadari kalau B juga mempunyai kebutuhan yang sama.

Permasalahannya, ketika sudah berbicara agama dan keyakinan, maka hubungannya sudah masuk taraf tinggi hidup-mati. Landasan yang kadang dipakai di dalam ajang pertikaian adalah sama-sama menganggap apa yang mereka lakukan adalah semata-mata demi Tuhan. “Ini adalah perjuangan suci”. Seharusnya pemimpin kelompok memiliki kesadaran penuh tentang adanya kebenaran subjektif di dalam kelompoknya dan kebenaran obyektif di tengah komunitas beragama dan berbangsa yang lebih luas.

Dalam rangka mempromosikan ajarannya di tengah pusaran ragam perbedaan keyakinannya, seharusnya ada istilah kode etik dalam berdakwah. Dimana satu dengan yang lain memiliki seperangkat aturan yang membebaskan dan membatasi apa yang diperbolehkan dan dilarang dalam prosesi berdakwah itu.

Komitmen paling sederhana: adanya sportifitas dalam berdakwah. Setiap kelompok harus berlomba-lomba memberikan tawaran-tawaran terbaiknya yang bisa memberi manfaat. Maka, eksistensi agama, aliran atau keyakinan apa pun yang nampak dipermukaan akan unjuk gigi atas kebaikan. Kita tidak boleh terusik atas berkembangnya golongan lain. Bahkan seharusnya hal itu menjadi bahan bakar semangat untuk laju golongannya untuk lebih baik lagi. Ini merupakan karnaval menampakkan washilah mana yang terbaik menuju ghoyah.

Jika sportifitas dalam berdakwah benar-benar bisa diwujudkan, kita tidak akan mudah merasa terganggu dengan lahirnya aliran atau sekte-sekte baru. Biarkan mereka berkembang, dan bagaimana cara kita memperkuat barisan. Sehingga tidak ada kejadian main hakim sendiri karena pihak mayoritas merasa terancam dengan esksistensi aliran yang dianggap minoritas. Bahkan secara tidak disadari dengan adanya diskriminasi dan perilaku dzalim yang dialami sebuah aliran minoritas itu malah sering menarik minat orang untuk memberikan simpati dan empati. Sehingga tidak jarang semakin mereka dihujat, semakin besar pula pengikut mereka. Demikian juga hal ini berlaku bagi kasus Irsyad Manjhi yang sudah kita uraikan di atas tadi. Akan semakin banyak yang penasaran dan mencari-cari bukunya Manjhi. Ini adalah bentuk promosi gratis untuk mempercepat penjualan buku.

Namun, akan berlaku sebaliknya bagi kelompok yang menindas. Mereka akan mendapat rapot buruk di dalam opini khalayak umum dan kehilangan daya tarik atas ajarannya. Sebenarnya, permasalahan utamanya kembali pada pentingnya kembali menumbuhkan sikap toleransi yang nyata di dalam kehidupan sosial. Dimana konsep tentang toleransi di tengah beragam perbedaan apa pun adalah salah satu identitas bangsa Indonesia. Meskipun kini mulai pudar. Begitu juga penekanan Islam tentang pentingnya sifat toleransi bukan hal yang asing lagi di dalam ajarannya.

 

Penulis akan mengutip ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan pentingnya bermusyawarah dan bertoleransi sebagai penutup tulisan ini: “Maka berkat Rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (Surat Ali Imran ayat 159).


* Tulisan ini pernah dimuat di Koran Radar Madura Tanggal 21 Januari 2014.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s