BIARKAN DILAN TETAP APA ADANYA

Saya menghabiskan masa-masa pubertas di dunia pesantren, sehingga tidak pernah punya pengalaman dan nilai kenangan terhadap hiruk-pikuk nuansa kisah-kisah ala anak “putih abu-abu”. Gambaran kehidupan anak SMA semacam kerennya anak basket, geng motor dan tawuran antar sekolah sama sekali tidak pernah saya rasakan.

Di pesantren saya dulu, yang namanya anak keren itu adalah seorang yang baca kitabnya nglontok, hapal bait-bait “al-Fiyah” dan Qiroaah atau vokalis banjari yang suaranya indah.

Maupun nuansa kisah kisah cinta remaja SMA seperti seorang cowok mendatangi cewek sambil langsung menyapa dan berharap bertemu di kantin. Mana ada santri yang berani begitu (apalagi sekolah saya cewek dan cowok dipisah jamnya).

Latar belakang di atas menjadi salah satu alasan saya mengapa kemarin menonton Dilan 1990 dan berlanjut membaca novel karangan Pidi Baiq itu sekarang. Saya ingin memperbesar wilayah perasaan untuk memahami lebih jauh sebuah kehidupan yang sama sekali saya asing tentang itu. Selain itu, saya ingin benar-benar menikmati film tanpa menjadi komentator. Hanya ingin menikmati deskripsi cerita anak SMA dan tentunya gombalan-gombalan Dilan terhadap Milea. Itu saja.

BACA JUGA: “CELUP” DAN KEBISINGAN SOSIAL BELAKANGAN INI

Gambaran ekspetasi sederhana dan kenikmatan saya tersebut akhirnya bubar karena dua hal.

Pertama, banyak warga net tidak membiarkan film Dilan dinikmati dalam pemaknaan yang lugas dan apa adanya. Obrolan tentang Dilan di jagat media sosial sering diseret dalam pusaran “pengapnya” atribut keagamaan yang selalu saja tidak bisa sejenak ditinggalkan (Ulasan ini mungkin bisa dibaca dalam tulisannya Irfan Sarhadi yang berjudul “Ayat-ayat Dilan: Dari Surayah Ke Tren Hijrah). Mungkin hal ini tidak lepas dari ramainya film Ayat-ayat Cinta sebelumnya yang lekat dengan penggambaran serba agamis. Akhirnya populer juga istilah “menfachrikan Dilan”. Sosok cowok ideal yang sebelumnya Islamis banget seperti Fachri di AAC 2 diganti dengan sosok humoris semacam dilan.

Ambil contoh quote yang paling populer si Dilan yang bilang “Rindu itu berat, kamu gak akan kuat. Biar aku aja”. Kemudian ada yang membandingkan kata-kata itu dengan proses menjelang sakaratul maut Baginda Rasullah SAW ketika merasakan sakitnya proses roh yang diambil dari badan. Rasul berkata, “umatku tidak akan kuat, biar aku yang menanggung sebagian rasa sakit ini, Tuhan”. Mengapa si Dilan harus dibandingkan dengan Nabi Muhammad? Atau kata-kata semacam ini, “yang berat itu bukan rindu, tapi dosa” dan semacamnya (cukup mudah menemukan plesetan-plesetan berbau keagamaan yang diambil dari ucapan Abdillah Dilan)

Kembali lagi ke ulasan awal, saya menonton Dilan dengan salah motivasi besarnya adalah ingin memahami kehidupan remaja yang dunianya tidak pernah saya masuki. Namun, apa yang bertebaran di media sosial membuat saya tetap terperangkap pada paradigma keagamaan, yang akhirnya membuat saya tidak bisa berjumpa lega dengan kebudayaan SMA yang sudah saya paparkan tadi. (Astagfirullah, jangan-jangan saya sekarang sudah bosan dengan kehidupan keagamaan, atau keagamaan belakangan ini yang membuat kehidupan saya menjadi pening dan menjenuhkan).

BACA JUGA: MEMBACA FILM THE COVE DALAM PRESPEKTIF EKOFEMINISME (BAGIAN 1)

Kedua, banyak sekali analisis-analisis berat yang membuat saya tidak bisa dengan fun menikmati Film Dilan. Semacam mengaitkannya dengan latar belakang bapak Dilan yang seorang TNI dengan kasus penculikan di Orde Baru. Atau mengaitkannya dengan sentimen keagamaan semacam Syiah dan seterusnya. Lagi-lagi soal keagamaan.

Saya berharap, film Dilan 1991 yang akan dirilis mendatang tidak mengikuti trend cita rasa untuk menuruti ceruk pasar identitas keagamaan, isu sipil-milter, Syiah-Suni,  PKI atau tema-tema lainnya yang lagi digandrungi belakangan ini. Biarkan Dilan tetap apa adanya. Biar saya bisa menikmatinya sesuai dengan motivasi utama saya melihat Dilan kemarin.

#Dipublikasian pertama dalam update status penulis di Facebook pribadinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s