MEMBACA FILM THE COVE DALAM PRESPEKTIF EKOFEMINISME (BAGIAN 2-SELESAI)

Hal menarik berikutnya, dalam analisis menjalankan gerakan sosial, Ric O’Barry menggunakan media berupa film dokumenter. Di era digital seperti ini, media-media informasi visual tentu memiliki andil luar biasa di dalam proses perubahan pendangan manusia, tindakan hingga ideologi. Sarana film dokumenter lebih lanjut menjadi penanda tipe gerakan sosial baru yang mencerminkan era pasca industrial. Pemahaman pasca industrial merujuk pada terlampauinya masa-masa sumber-sumber kekuasaan berdasarkan tanah, mesin dan seterusnya yang kini beralih pada penguasaan informasi (Sugiharti, 2004:389-390). Jelasnya, arus informasi dan teknologi memegang peranan penting dan bahkan paling utama dalam rangka menggerakkan dinamika sosial dan perubahan sosial.

Baca: MEMBACA FILM THE COVE DALAM PRESPEKTIF EKOFEMINISME (BAGIAN 1)

Namun diskursus terkait hal di atas tidak akan dijabarkan lebih jauh dalam tulisan ini. Perbincangan yang ingin ditekankan disini adalah film The Cove menjadi sebuah sarana gerakan sosial baru dilihat dari isu lingkungan yang diangkat dan sarana teknologi informasi yang digunakan mencerminkan perlawanan di era global.

PRESPEKTIF EKOFEMINISME

Keadilan ekologis mengandaikan relasi yang seimbang antara manusia dan keseluruhan komponen alam, meliputi manusia sendiri, binatang, tumbuhan, benda biotis dan abiotis harus mendapatkan perlakuan secara adil. Shiva memperkenalkan konsep demokrasi bumi dalam artian setiap masing-masing alam memiliki unsur intrinsik sehingga wajib dihormati keberadaannya (Suliantoro, 2013:67-68). Maka, tolak ukur kebaikan manusia bukan hanya sekedar ditentukan oleh hubungan sesama manusia saja, tapi juga mencakup bagaimana manusia memperlakukan keseluruhan unsur kosmos.

Sampai kapan pun keadilan ekologis tidak akan pernah bisa tercapai tatkala persoalan kapitalisme patriarkhi masih berlangsung. Kapitalisme patriarkhi artinya tidak ada kesejajajaran yang bercorak keadilan dalam relasi manusia dengan alam. Patriarkhi disini bukan hanya sekedar dialamatkan kepada persoalan jenis kelamin laki-laki, tapi melingkupi sikap dan watak patriarkhisme atau biasanya disebut dengan maskulinitas. Patriarkhisme pada akhirnya bukan hanya dialamatkan kepada persoalan jenis kelamin semata, tapi scope akan luas meliputi watak dominasi, eksploitasi, kekerasan kepada alam dan makhluk lain yang didudukkan sebagai watak feminisme. Subordinasi terhadap alam dan perempuan lebih lanjut menjadi sebuah aliran pemikiran ekofeminisme.

Lebih jauh Shiva sangat mengecam landasan epistemologis yang dikembangkan oleh kapitalisme-patriarkhisme. Epistemologis tersebut dapat mengantarkan kepada pemahaman dualistik-dikotomi yang sangat dominasi. Pemisahan manusia dengan alam melalui cara pandang demikian rawan membangkitkan potensi penaklukan alam (Ibid:70).

KETERASINGAN (ALIENASI): POTRET KELAM NET GENERATION

Shiva menawarkan solusi untuk merubah cara pandang manusia terhadap alam. Manusia adalah makhluk rasional dan relasional, saling melengkapi dan saling mebutuhkan. Manusia dan kosmos adalah satu keluarga yang harusnya diperlakukan secara terhormat. Dan menanggalkan pemahaman reduksionis yang menyeragamkan nilai-nilai kosmis dipersempit hanya bergantung kemauan pasar semata (Ibid:71). Melalui konsep keadilan sosial dalam pengelolahan ekologis, dia mengajak dan menyeruhkan tentang peran penting manusia merawat dan melestarikan lingkungan hidup.

Beranjak ke analisis film The Cove yang telah memproyeksikan sebuah gerakan sosial baru dengan isu lingkungan hidup. Apa yang telah penulis saksikan dalam tayangan film yang berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut, mencatat bagaimana lumba-lumba mengalami pembantaian, eksploitasi, tekanan mental yang mengakibatkan banyak kematian dan seterusnya. Jika menggunakan kacamata ekofeminisme, terutama kritiknya terhadap kapitalisme-patriarkhisme, disinilah persoalan tersebut menemukan relevansinya. Dominasi manusia atas lingkungan hidup, perairan dan lumba-lumba begitu menampakkan diri bahwa ada perasaan maskulinitas sangat terasa. Nelayan, bahkan pemerintah Jepang sendiri melakukan pemusnahan secara perlahan dan dengan orientasi ekonomi menguatkan dugaan pemahaman kapitalisme-patriarkhisme yang dialami mereka. Alam tidak dianggap sebagai bagian relasional layaknya keluarga seperti pernyataan Vandana Shiva, akhirnya meletakkan lingkungan hidup pada persoalan pertentangan : jika tidak ditaklukan, maka ia akan menaklukan. Penaklukan alam, dalam hal ini lumba-lumba secara masal menunjukkan subordinasi maskulinitas manusia atas alam.

Seturut dengan solusi yang ditawarkan Shiva, manusia harus memposisikan dirinya sebagai makhluk yang rasional dan relasional. Mengkonsumsi atau bahkan menyebarluaskan daging lumba-lumba yang mengandung merkuri tentunya bukan suatu hal yang harusnya rasional karena membahayakan tubuh manusia. Dan, mengalpakan makna relasional yang bercorak keadilan ekologis adalah suatu kenyataan di film The Cove yang harus diterima.

DAFTAR RUJUKAN

Buku

  1. Horton, Paul B. & Chester L. Hunt. New York: Western Michigan University, 1964.
  2. Mashud, Mustain. Perubahan Sosial. dalam Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (Ed.). Sosiologi : Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.
  3. Ranjabar, Jacobus. Perubahan Sosial :Teori-teori dan Proses Perubahan Sosial Serta Teori Pembangunan. Bandung: Penerbit Alfabeta, 2015.
  4. Sugiharti, Rahma. Masyarakat Informasi dan Net Generation di Era Post Industrial. dalam Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (Ed.). Sosiologi : Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004.

 

Jurnal

  1. “Gerakan Sosial Baru di Indonesia”. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 10, Nomor 1, Juli 2016.
  2. Wibowo Suliantoro.2013. “Konsep Keadilan Sosial Yang berwawasan Ekologis Menurut Vandhana Shiva: Kajian dari Prespektif Etika Lingkungan”. Makalah Prosiding The 5th International Conference on Indonesian Studies: Ethnicity and Globalization.

 

Internet

  1. bbc.com/Indonesia/majalah/2016/01/10122_majalah_jepang_lumbalumba (diakses tanggal 13 Mei 2016)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s