MEMBACA FILM THE COVE DALAM PRESPEKTIF EKOFEMINISME (BAGIAN 1)

“The Cove” (2009) merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Lios Psihoyos. Sedangkan yang berperan sebagai tokoh aktifis sentral adalah Ric O’Barry. Film ini menguak perburuan masal dan eksploitasi lumba-lumba di Teluk Taiji, Jepang. Fakta dalam film tersebut mengungkapkan terdapat 23.000 lumba-lumba dibunuh secara masal setiap tahunnya;

setiap lumba-lumba dihargai USD 600, jika yang didapatkan merupakan lumba-lumba hidup atraktif harganya bisa mencapai USD 150.000 kepada Sea Word dan akuarium lainnya.

Mengapa pembantaian hewan mamalia ini begitu dianggap miris? Sebagian disebutkan alasannya di dalam film tersebut, diantaranya lumba-lumba memiliki tingkat intelegensi yang hampir menyamai manusia, dan sangat wajar kelak lumba-lumba akan punah hanya karena menuruti kehendak ekonomis semata. Disamping itu, darurat keberlangsungan ekosistem akibat pembantaian lumba-lumba juga menjadi argumentasi para aktifis lingkungan berikutnya.

Film tersebut juga memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa di dalam tubuh lumba-lumba terkandung merkuri dengan kadar tinggi yang berbahaya bagi tubuh manusia jika dikonsumsi. Mirisnya lagi, masyarakat Jepang banyak yang kurang menyadari fakta bahwa daging lumba-lumba tersuplai ke dalam banyak kemasan makanan dengan berbagai variasi.

Hampir secara keseluruhan, upaya Barry mengungkap perburuan dan eksploitasi lumba-lumba dalam film “The Cove” digambarkan secara apik dengan penuh ketegangan. Penutup film tersebut mengkisahkan Bary membawa LCD yang diikat di perutnya dan memutar video hasil investigasi untuk menyuarahkan kekesalannya di berbagai tempat, diantaranya tempat-tempat formal yang membahas lumba-lumba hingga di tengah-tengah kota. Film dokumenter racikan orang Amerika ini sempat dianugerahi penghargaan Oscar untuk kategori “Best Documentary Film” pada tahun 2009.

Tidak seluruh upaya yang dilakukan Ric O’Barry dengan membuat film documenter tersebut diganjar hal positif. Sebagaimana berita yang dilansir BBC.com (2016/01/23), ketika Barry menginjakkan kaki kesekian kalinya di Jepang, tepatnya di Tokyo tanggal 18 Januari 2016, ia ditangkap dan dideportasi oleh pihak Kantor Imigrasi Tokyo. Lebih jauh BBC.com menjelaskan hal itu bukan pertama kalinya yang dialami Barry. Pada bulan September 2015, ia juga pernah ditangkap pada malam menjelang permulaan musim perburuan lumba-lumba di Taiji.

Jika mengamati perjalanan Barry dalam film The Cove, sebenarnya rintangan-rintangan seperti aparat negara dan nelayan-nelayan kawasan Taiji sendiri menjadi penghalang besar dalam proses pembuatan film tersebut. Artinya, Barry sudah sangat akrab dengan tindakan-tindakan koersif pemerintah dan kelompok pendukung pemerintah. Bahkan di pembukaan film The Cove, ia mengawali pernyataannya dengan, “We dont want said, that we crater that story is legal!”.

KOMODIFIKASI MEDIA & DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT

Adalah sebuah konsekuensi logis jika film tersebut banyak menuai kecaman. Terdapat beberapa hal yang diungkapkan ke publik terkait konspirasi pemerintah Jepang untuk menjalankan bisnis eksploitasi lumba-lumba. Dimuat pula adegan yang menampilkan bagaimana nelayan lumba-lumba begitu beringas menjaring dan menggunakan tombak untuk menangkap lumba-lumba.

Selanjutnya penulis akan mencoba untuk mengupas film documenter The Cove kaitannya dalam diskursus gerakan sosial baru bercirikan pendekatan environmental, khususnya dengan menggunakan pisau analisis dari Ekofeminisme ala Vandhana Shiva.

THE COVE SEBAGAI GERAKAN SOSIAL BARU

Secara sederhana, perubahan sosial didefinisikan sebagai “collective enterprises to establish a new order life”(Horton & Hunt, 1964:512). Atau, bisa juga meminjam pengertian dari Turner dan Killian’s, “a collectivity acting with some contuinity to promoteor resist a change in the society or group of which it is a part” (Ibid). Kaitannya dengan gerakan sosial, dalam analisis perubahan sosial menyatakan bahwa gerakan sosial menjadi sebuah manifestasi dari faktor internal yang turut menyumbang di dalam perubahan sosial (Mashud, 2004:.384). Maksudnya, gerakan sosial diklasifikasikan ke dalam upaya perubahan sosial oleh aktor-aktor dari dalam struktur sosial tersebut.

Melacak lebih jauh Ric O’Barry dan krunya berasal dari Amerika, hal ini akan mengkaburkan pemahaman gerakan sosial hanya terjadi oleh lapisan di dalam masyarakat sendiri. Sehingga, pemahaman perubahan sosial berlandaskan gerakan sosial akan lebih mumpuni jika dipahami sebagai kolektifitas yang bekerja secara kontinyu (tanpa memandang dari mana tindakan itu berawal), guna meningkatkan penyebaran gagasan dan perubahan di dalam suatu masyarakat atau kelompok (bermuara pada kelompok tertentu yang dituju atau hingga penyadaran secara luas). Dengan makna yang sama tapi bahasa yang berbeda seperti diungkapkan oleh Turner dan Killian’s sebelumnya.

Semakin kompleks persoalan sosial yang sebanding lurus dengan arus modernisasi dan globalisasi, mensyaratkan sebuah konsep pemahaman baru untuk membaca realitas sosial yang kini terjadi. Konsep gerakan sosial lama sudah tidak lagi memadahi untuk menganalisis perubahan dalam sosial yang berimplikasi kepada reaksi kolektif gerakan sosial di era global. Muncullah konsep gerakan sosial baru.

Pembedaan utama dengan gerakan sosial lama adalah tampilan watak yang berubah. Gerakan buruh dengan orientasi materialisme-ekonomis menjadi contoh yang baik bagi gerakan sosial lama, sedangkan menurut Suharko (2006:7-9), gerakan sosial baru lebih menekankan pada aspek gaya hidup dan kebudayaan, tidak lagi terkungkung dalam dilema pertentangan status ekonomi semata. Gerakan lingkungan, perdamaian, feminisme menjadi contoh yang baik dalam analisis GSB.

Seperti di singgung di atas, gerakan lingkungan menjadi salah contoh yang mencolok terkait fenomena-fenomena gerakan sosial baru. Secara kasat mata, film dokumenter The Cove menampilkan pembelaannya kepada pelestarian lingkungan hidup, khususnya terkait pelestarian lumba-lumba. Perlu dipahami juga, lingkungan bukan hanya sebatas alam saja, tapi mencakup keseluruhan lingkungan fisik yang pastinya memiliki pengaruh terhadap manusia (Ranjabar, 2015:102).

Bersambung

 

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s