DRAMATURGI DALAM PANGGUNG POLITIK

(Sumber Gambar: Antara Foto/M. Agung Rajasa)

Fakta pertama, setiap perhelatan pesta demokrasi selalu diwarnai antusiasme masyarakat yang cukup menggemberikan. Lepas dari turunnya partisipasi dalam bilik suara, setiap momen pergantian pemimpin dari level nasional hingga kepala daerah selalu menjadi buah bibir masyarakat perkotaan hingga pedesaan. Intinya, fenomena pergantian pemimpin, khususnya melalui mekanisme pemilihan langsung cukup menyita perhatian dan harapan khalayak umum akan masa mendatang yang lebih baik.

Fakta kedua, terdapat siklus kekecewaan berulang-ulang dalam hati masyarakat terkait setiap pergantian pemimpin: merasa kecewa lagi. Silih bergantinya sosok pemimpin baru selalu membawa harapan baru dan kekecewaan baru dalam realitas selanjutnya setelah sang pemimpin terpilih.

(Baca juga LGBT DALAM PERSPEKTIF DEMOKRASI DI INDONESIA)

Dua fakta di atas mengilhami penulis untuk mencoba menarik sebuah refleksi kecil terhadap pergantian dan sisi realitas panggung kekuasaan.

Penulis berharap dugaan ini semacam ini keliru, jangan-jangan selama ini yang kita pilih bukanlah sejatinya si “A”, tetapi persepsi kita tentang si “A”. Bukan benar-benar kita mengenal sosok “A” yang menggiring kita memilihnya, tapi si “A” lah yang menggering persepsi kita sesuai konstruksi yang dibutuhkan sebagai refrensi kita menentukan pilihan. Gamblangnya terdapat sejenis mobilisasi kesadaran terhadap masyarakat yang yang merupakan idealisasi sosok yang dibangun sendiri oleh kontestan pemilu tersebut. Si “A” sosok yang tegas, si “B” sosok yang santun dan sebagainya.

Ibarat racikan bumbu, hal tersebut sesuai dengan kaldu rasa ayam, meminjam ungkapan Emha Ainun Najib.  Bukan kenikmatan sesungguhnya ayam yang kita rasakan, melainkan sekedar rasanya saja.

DRAMATURGI

Selaras dengan teori “Dramaturgi” yang dicetuskan Erving Goffman (dalam Halim, 2014), ia menilai dunia politik tak ubahnya sebuah panggung daripada realitas yang selama ini dipahami. Apa yang diperankan atau ditampilkan seseorang di atas panggung oleh seorang aktor selalu syarat motif tertentu.

Lebih jauh dia menjelaskan, teori Dramaturgi sangat terkait erat dengan modal, terutama yang bersifat simbolik. Perwujudan modal simbolik bisa dalam berbagai bentuk misalnya, kemampuan orasi, meyakinkan pemilih atas gagasan-gagasannya, terutama teori panggung ini mensyaratkan politisi untuk sadar kamera. Ulasan Dramaturgi lebih jauh lagi dapat dipahami sebagai “fatamorgana politik”, dimana kondisi politik ditekan pada derajat serendah-rendahnya dan secara keseluruhan terserap habis ke dalam percaturan mekanisme citra dan tanda-tanda (Halim, 2014).

Di sisi lain, ibarat sebuah panggung pemetasan, penonton hanya akan sekedar menilai performa politisi dalam memainkan peran semata, tidak pada proses-proses dan taktis dibelakang panggung. Realitas yang dikemukakan hanyalah sebatas teatrikal dalam batas-batas yang sah untuk dipertontonkan.

Hal di atas menegaskan akan terasa sangat sulit, atau mungkin mustahil, untuk bisa memecah kebuntuan-kebuntuan mengungkap peristiwa apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung-panggung drama politik. Semua politisi masing-masing berebut predikat protagonis dan mengantagoniskan lawannya di atas panggung politik.

Perlu dicatat, tidak semua aksi panggung merupakan sandiwara semata. Sebagian lain mensinyalir bahwa sebuah pertunjukkan teater merupakan manifestasi dari realitas yang banyak tidak disadari audiens. Bahkan dengan tegas mengatakan, aksi drama ini bukanlah sebuah cerita fiksi, melainkan hidup kita lah yang fiksi, tidak nyata!

Gelagat di atas bisa dibaca melalui sebagian tokoh-tokoh politik mencoba mengungkapkan kebenaran terselubung yang jarang diketahui secara luas, atau bahkan sama sekali tidak diketahui oleh penonton. Sayangnya, meskipun seringkali seorang aktor politik berusaha tampil prima dengan menyuguhkan kebenaran tertentu tentang sebuah permasalahan, bisakah adegan tersebut terlepas dari unsur-unsur motif-motif tertentu dalam kerangka pembacaan teori panggung?

Jika Sudirman Said melaporkan pelanggaran etis terkait kasus “mama minta pulsa” yang dilakukan Setyo Novanto, Ahok menggusur pemukiman Kalijodo, peliknya peredebatan reklamasi di beberapa daerah belakangan ini, kegaduan kabinet kerja antara Rizal Ramli VS Sudirman Said terkait blok Masela, atau Marwan Jafar VS Pramono Anung terkait psywar pada kasus Garuda Indonesia lantaran keterlambatan Menteri Desa dalam penerbangan ke Yogyakarta, apakah mungkin keseluruhan drama politik yang bersitegang tersebut di dalam masing-masing aktor politik tidak memuat rekapitulasi imbas dari setiap tindakan politisnya?

Memang, sekilas suguhan yang dihidangkan dalam penampilan aktor politik tertentu nampak terkesan berani menelanjangi kebenaran. Kekhawatiran beruntutnya adalah sebagian kebenaran tanpa memahami konteks motifnya lebih berbahaya dari seluruh kebohongan. Atau dengan ungkapan lain dapat dinyatakan sebagai, ucapan kebenaran yang ditujuhkan untuk keburukan. Hal ini akan mengantarkan kita pada kesimpulan awal bahwa, panggung politik tetap hanya sebagai wahana aktualisasi aktor politik untuk berakting.

Di tengah maraknya teknologi informasi yang sangat pesat dan keterbukaan media begitu kentara mewarnai perpolitikan tanah air, bisa disebut media merupakan fasilitas panggung yang tersedia secara luas, penonton atau publik akan serba kebingungan menilai beragam varian kebenaran yang disuguhkan para politisi.

Semoga media tidak menambah beban tambahan dengan ikut serta sebagai aktor politik, tapi sekedar menyediakan panggung pentas bagi politisi. Di sisi lain, media membantu masyarakat dalam investigasi kebenaran untuk menguak realitas sebenarnya di balik panggung politik.

Daftar Rujukan

Halim, Abd. 2014. Politik Lokal: Pola, Aktor & Alur Dramatikalnya. Yogyakarta: LP2B.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di website hmifisipua.weebly.com pada tanggal 11 Mei 2016.

 

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s