MENELAAH KULTUR, MULTIKULTUR DAN POSTKULTUR (BAGIAN 2-SELESAI)

Catatan ini adalah lanjutan review penulis terhadap buku karya Joel S. Kahn yang berjudul “Kultur, Multikultur, Postkultural: Keragaman Budaya dan Imperialisme Kapitalisme Global” (2016).

Pada bagian sebelumnya, penulis telah menjelaskan latar belakang kemunculan postkolonial (sub dari bingkai besar pemikiran postmodern), yang merupakan serangan terhadap kebiasaan dan ketidaktentuan serta berbedanya realitas modernitas dibanding dengan janji dan slogan-slogan modernitas itu sendiri.

(Baca: MENELAAH KULTUR, MULTIKULTUR DAN POSTKULTUR)

Postkolonial

Melalui karya Orientalisme, Edward Said menawarkan dan memperjelas garis pemisah yang tegas antara kebudayaan imperalisme dengan kebudayaan negara jajahan, yang dalam perkembangannya menjadikan karyanya tersebut sebagai teks dasar dari pemikiran-pemikiran postkolonial. Said menyerukan keras agar Barat kembali mengkoreksi dan melakukan konseptualisasi pandangan ulang terhadap negara-negara non-Barat.

Selama pada masa penjajahan hingga merdeka sekali pun, negara-negara non-Barat senantiasa didukkan dalam posisi subordinasi persepsi; Barat senantiasa menciptakan imajinasinya sendiri terhadap non-Barat dan hanya menjadikan mereka sebagai obyek dari eksploitasi alam, manusia dan kesadaran. Non-Barat hanya sekedar permainan bagi pandangan belahan dunia Barat.     

Sebenarnya terkait penolakan atas dominasi budaya bisa dilacak dalam karya monumental Jean-Francois Lyotar, dalam artikel pertamanya yang diterbitkan pada tahun 1985 dengan judul Histoire Universale et Differences Culturelles. Dalam tulisannya tersebut, Lyotard melakukan penyangkalan atau bahkan perlawanan terhadap narasi-narasi besar dari filsafat tradisional dan teori-teori sosial, bahwa narasi besar itu telah merusak kebudayaan-kebudayaan lain non-Barat. Narasi besar yang tidak lain adalah kebudayaan Barat sendiri dianggap Lyotard selalu berbicara dan berimbang dengan sebuah proses yang menjadikan budaya-budaya non-Barat didominasi atau bahkan dirusak oleh kemajuan Barat.

Secara ringkas namun jelas, postkolonial meletakkan diri sebagai sebuah paradigma pemikiran yang melakukan konter terhadap imperalisme yang digawangi oleh dunia Barat. Penyangkalan terhadap imprealisme Barat sendiri dilakukan dengan menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan budaya barat (sering disebut sebagai budaya liyan) yang ikut hancur bersamaan dengan budaya Barat melalui imprealisme dalam berbagai bentuk.

Timbulnya kesadaran akan postkolonial tidak terlepas dari pengamatan banyak intelektual yang menaruh perhatian terhadap konstruksi akan budaya atau nilai-nilai universal, yang sejatinya adalah kebudayaan atau nilai-nilai yang berasal dari Barat.

Menguti pendapat Foucault, Joel ingin memperjelas bahwa kekuasaan mengandung unsur resistensi tertentu dari sebuah bahasa kekuasaan tertentu, maka sejatinya setiap bahasa yang bernada resistensi pada hakikatnya juga mengandung kekuasaan tertentu juga bagi kekuasaan lain. Ringkasnya, Joel menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan bagian dari ranah diskursus tunggal yang dikonstruksi oleh bahasa budaya, identitas dan kekuasaan yang tunggal daripada mengasumsikan postcolonialisme sebagai sebuah diskursus yang menandai perbedaan radikal antara bahasa kekuasaan dan bahasa nonkekuasaan (Kahn, 2014:15).

Bagaimanapun juga, postkolonial harus tetap diletakkan dalam diskursus kekuasaan yang melawan kekuasaan tertentu, yaitu imperialisme Barat. Meskipun acap kali postkolonial hanya sekedar dipahami bukan dalam aspek kekuasaan, tetapi didefiniskan hanya sebagai gambaran tanding atau counter discourse terhadap gagasan mapan yang telah terkonstruksi oleh nalar kolonial yang sifatnya cenderung dominatif dan hegemonik.

Penutup

Pada akhir tulisannya, Joel S. Kahn mempertanyakan ulang beberapa persoalan yang dikumandangkan oleh postmodern dan postkolonial yang malah menjadi biang keladi masalah itu tersendiri. Sebagai contoh, umat non-Islam hari ini harus berhati-hati terhadap suara-suara gertakan umat Islam yang dewasa ini semakin eksis untuk mengumandangkan kebudayaan mereka, bahkan hingga cara radikal sekalipun. Padahal, sebelum proyeksi orientalisme tersebut dikenal luas, masyarakat non-Barat khususnya dalam hal ini Islam selama ini cenderung diam.

Melakukan kategorisasi modernitas sebagai kolonialisasi kultural, dan postkolonial maupun posrmodernis pasti bukan kolonial merupakan tindakan yang gegabah. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa suara-suara lain (sub altern atau liyan) memang perlu untuk didengarkan. Namun, persoalannya kemudian adalah benarkah bahwa suara-suara yang banyak termotivasi dari gerakan postkolonial, postmodernitas, orientalisme dan seterunya benar-benar memang hari ini baru didengarkan?!

Pada akhirnya, Joel S. Kahn mengajak kita untuk kembali merenungkan catatan tentang perbedaan budaya ternyata tidak kunjung memberikan pencerahan kepada kita dalam diskursus kultur modernitas. Pemahaman kita tentang perbedaan budaya hanya terletak seperti pada kulit hitam-putih yang cenderung sensitif untuk diperdebatkan. Faktanya, konstruksi humanitas yang pastinya telah terfragmentasi  secara kultural selalu dikaitkan dengan ekstrim kanan dan kiri, bersama rezim-rezim yang dianggap dominatif, gerakan-gerakan pembebasan yang dipelopori oleh postmodernis maupun postkolonial, bersamaan dengan politik identitas dan juga kosmopolitanisme.

Alhasil, baik postmodernis maupun postkolonialisme bukan hanya sekedar tidak membantu sebagai instrument meramu perbedaan budaya, tapi menimbulkan kegaduan yang terkesan dipaksakan. Sembari seakan-akan meyakini bahwa kebudayaan yang telah terfragmentasi tersebut di era modernis tidak bergerak dan bersifat tetap. Tentu pemahaman ini kurang tepat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s