MENGENAL LUKISAN SILUET AADC

(Gambar: Ruang tamu Sanggar Seni Arimbi)

“Jabatan kami adalah kemerdekaan”

Tulisan di atas penulis temui dalam sebuah ukiran kayu yang terpajang di ruang tamu kediaman Rudi Hartono, pendiri Sanggar Seni Arimbi Jombang. Turut menemani ukiran kayu tersebut, nampak banyak lukisan-lukisan yang terpampang memenuhi rumah yang sekaligus difungsikan sebagai tempat proses kreatif pria asli Kesamben Jombang tersebut bersama rekan-rekan seniman Arimbi lainnya. Lukisan tersebut diantaranya adalah lukisan para tokoh-tokoh NU seperti KH Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Sahal Mahfud serta lukisan-lukisan pesanan lainnya.

Dari tangan Rudi Hartono (dia lebih suka dipanggil Cak Kancil Hartono, mungkin untuk membedakan dirinya dengan seorang pemain bulu tangkis nasional), ratusan lukisan telah lahir dengan berbagai corak yang berbeda. Sebagaimana dulu lukisan dengan motif “Batik Tutul Arimbi” yang membuatnya beberapa kali diundang oleh stasiun televisi dan media massa seperti acara Kick Andy dan lain-lain. Batik Tutul Arimbi merupakan gabungan antara lukisan kaligrafi dengan motif batik dengan teknik tutul melalui beragam media, seperti kanvas, helm, body motor, anyaman tradisional dan sebagainya. Sedangkan kata Arimbi diambil dari sanggar seni yang digawangi Cak Kancil.

(Baca juga: “PESANTREN TRADISIONAL”: PENDIDIKAN MURNI ISLAM NUSANTARA )

Saat ini, Cak Kancil sedang mengembangkan sebuah lukisan bertemakan “Lukisan Siluet AADC”. Dinamakan AADC karena background yang digunakan di dalam lukisan adalah warna-warni yang mirip dengan poster Rangga dan Cinta di Film Ada Apa Dengan Cinta.

Ketika penulis bertanya apakah pemberian nama Lukisan Siluet AADC memang terinspirasi oleh film yang banyak digandrungi para remaja tersebut, Cak Kancil mengatakan bahwa yang memberikan nama itu adalah beberapa pelanggan lukisannya, dan dia berpikir nama itu cukup bagus sebagai media pemasaran juga.  

Mendapat Apresiasi dari Emha Ainun Najib

Screenshot_2018-01-12-08-40-18-1

Di salah satu foto instagram Cak Kancil, terdapat fotonya bersama dengan Emha Ainun Najib sambil memegang Lukisan Siluet AADC. Penulis sempat mendapatkan cerita di balik foto tersebut ketika penulis bersama beberapa teman dari Surabaya bertandang ke rumahnya di Desa Mojokrapak Jombang tanggal 09 Januari 2018 petang kemarin. Begini cerita menurut penuturan Cak Kancil:

Dalam suatu kesempatan perhelatan seni di Jombang, Cak Kancil berkesempatan untuk berdiskusi dengan beberapa seniman asal Jombang, salah satunya adalah seorang budayawan kondang tanah air, Emha Ainun Najib. Dalam kesempatan tersebut, Cak Kancil, atas permintaan saudara kandung Cak Nun beberapa hari sebelumnya, memberikan sebuah lukisan bergambar kiai mbeling tersebut.

Cak Nun pertama-tama mengomentari kenapa tanda tangan pelukis atas nama Kancil. Cak Kancil menjawab bahwa dia ingin berjuang mengembalikan nama baik kancil yang selama ini di dongeng atau lagu anak-anak sering dipersepsikan sebagai hewan dalam konotasi negatif, atau lebih tepatnya sebagai pencuri timun. Padahal, menurut Cak Kancil, binatang kancil adalah binatang yang cerdik yang bisa lolos dari buaya yang rakus untuk memangsa hewan lainnya.

Aku seneng model wong koyok ngeniki (aku suka model orang seperti ini)”, kata Cak Nun menimpali jawaban Cak Kancil. “Lah, terus kenapa kok di lukisan (Lukisan Siluet AADC) tidak ada latar belakang warna putih?”.      

Cak Kancil kemudian memberikan penjelasan bahwa melukis bukan sekedar mengkonstruksi ulang sebuah gambar atau foto melalui kuas dan kertas, namun berusaha menyelami jiwa seseorang yang dilukis sekaligus menangkap karakternya. Sehingga, di dalam sebuah lukisan terdapat gambaran pelukis terhadap objek karyanya.

Lantas, mengapa tidak ada warnah putih dalam Lukisan Siluet AADC? Warna putih adalah simbol kesucian dan kebersihan jiwa yang tidak ternodai oleh kemaksiatan apa pun. Dalam bahasa pesantren disebut sebagai ma’shum (orang yang terbebas dari dosa sebagaimana para Nabi). Kesucian hanya milik Tuhan yang kemudian dipancarkan melalui para utusan-Nya yang terpilih. Menurut Cak Kancil, tidak ada seorang pun yang pantas mendapatkan predikat atas kesucian jiwa secara mutlak.

“Biasanya sebelum melukis, saya ambil wudhu dan tidak pernah lupa untuk mengirimkan fatihah kepada yang saya lukis untuk bisa memahami potret jiwanya maupun memahami harapan dari yang saya lukis”, tutur Cak Kancil kepada penulis.

“Ya, minimal mendoakan (yang dilukis) kalau itu sepasang sejoli biar menjadi langgeng dan penuh cinta, kalau dia calon sarjana biar manfaat ilmunya”, tambah pria yang juga pemain ludruk tersebut.

Setelah mendengarkan jawaban Cak Kancil terkait alpanya warna putih di Lukisan Siluet AADC, Cak Nun mengatakan, “Kesinio dek, aku seneng (model seniman) kayak awakmu. Ayo foto”.

Terkait tarif lukisan, Cak Kancil tidak pernah menyebut nominal tertentu dan memasrahkan kepada pemesan untuk menentukan harganya sendiri. Untuk pemesanan biasanya langsung datang ke rumahnya di Dusun Sugihwaras Mojokrapak Jombang atau bisa melalui telepon atau WA di nomer 085646165293.   

12 Januari 2017

    

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s