KOMODIFIKASI MEDIA & DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT

(Ilustrasi Gambar: Frch)

Menurut Tebba, setiap berita yang dipublikasikasikan oleh media senantiasa bersifat antara ideologis, politis dan bisnis (dalam Badara, 2013:11). Muatan ideologis biasanya dapat diketahui dari latarbelakang dan nilai-nilai yang dihayati oleh pendiri media tersebut, sebagaimana Kompas dengan nilai humanisme Kristianinya atau Republika dengan nilai profesionalisme Islam.Sedangkan muatan politis merujuk pada apa yang ditampilkan oleh media tertentu berlandaskan afiliasi politik yang terjalin dengan media tersebut. Sehubungan dengan pertimbangan bisnis, apa yang disuguhkan media kerap kali menggunakan logika ekonomi. Dalam konteks bisnis, orientasinya semata-mata adalah laba.

Ulasan tersebut akan menandaskan klaim obyektifitas media dalam menyampaiakan berita. Entah pertimbangan ideologis, politis maupun bisnis selalu hadir bersamaan dengan teks berita tersebut diproduksi.

Tulisan ringkas ini hendak membidik ulah media yang dikontrol oleh pertimbangan bisnis. Pada gilirannya, pengontrolan media massa oleh kepentingan bisnis dikenal dengan istilah “komodifikasi pers”. Berikutnya akan dibahas bagaimana dampak dari konstruksi sosial oleh media yang diarahkan logika bisnis dalam melakukan penataan pola pikir dan perilaku publik. Akhirnya, unconscious motives atau motivasi yang tidak disadari untuk melakukan sesuatu oleh masyarakat terjadi karena diperdaya oleh kekuatan kapital berupa produk dan iklan melalui media.         

Komodifikasi Media

Iklan merupakan salah satu penopang keberlangsungan hidup sebuah media massa. Tanpa iklan, perputaran ekonomi yang menyokong produktifitas sebuah berita bisa macet bahkan media massa bisa bubar. Sehingga tidak mengherankan kemudian, media massa (baik eletronik maupun cetak) bukan hanya sebatas memberikan ruang bagi memuat iklan, bahkan pihak media sampai membuatkan progam khusus untuk sponsor yang bersangkutan. Acara Gebyar BCA dan Indosat Super Show menjadi contoh yang baik dalam hal tersebut.

Komodifikasi disini mengarah pada pengertian media pada gilirannya hanya berfungsi sebagai institusi ekonomi. Pelan-pelan peran media massa selaras dengan fungsi normatifnya akan semakin ditinggalkan. Sebagaimana kaprah dipahami, media merupakan pilar keempat demokrasi setelah trias politika (legislatif, eksekutif dan yudikatif). Di era demokrasi representatif yang berjiwa elitis, media massa diharapkan menjadi jembatan antara publik dan pemerintah.

Di samping itu, keberadaan media massa diharapkan sebagai saluran untuk mengemukakan kepentingan publik dalam arti luas. Namun, komodifikasi media yang terjadi memarginalkan peran hebat tersebut. Komodifikasi media akhirnya mengantarkan pemahaman kita, sebagaimana yang dijelaskan oleh Iswandi Syahputra dalam Rezim Media (2013:7), Pelaku industri media penyiaran memberikan intepretasi kepentingan publik berdasarkan kepentingan bisnis.

(Baca: KETERASINGAN (ALIENASI): POTRET KELAM NET GENERATION)

Lebih jauh Iswandi memaparkan, komodifikasi media akan menggeser relasi antara media dan masyarakat tidak lagi hanya sekedar relasi warga negara sebagai publik dan pers sebagai media massa. Hubungan yang terjadi adalah: relasi produsen dengan konsumen yang diperantarai oleh media. Bagaimana media secara umum hanya berfungsi sebagai tempat menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli (Syahputra, 2013:64).

Untuk lebih memuluskan barang dagangan, media juga harus berkenan untuk membentuk selera masyarakat tergantung produk dagangan yang dijajahkan. Tidak ada kesangsian lagi bahwa media memiliki peranan besar dalam melakukan pendefinisiaan sosial. Bahkan, media dapat merubah mandset dan perilaku masyarakat. Taruhlah contoh untuk mempromosikan produk kecantikan, media harus membuat definisi cantik semisal kulit putih dan rambut hitam lurus kemilau. Ibarat mau memasarkan mobil di sebuah negara terbelakang, maka investor terlebih dahulu memberikan bantuan berupa pembangunan jalan raya supaya masyarakat bisa menjangkau fasilitas mobil yang akan disediakan. Sebagaimana media, dia bertugas untuk membuatkan jalan raya dengan sebuah standarisasi tertentu bagi pola pikir masyarakat agar mudah menerima produk dari pengusaha.

Deskripsi-deskripsi yang dikemukakan terkait komodifikasi media memang terasa berlebihan, namun sebenarnya hal tersebut adalah hegemoni yang tidak kita rasakan. Sebagai penguat, untuk pemilahan kategori berita dari segi konten, yaitu hard news (berita yang berhubungan dengan kepentingan publik, seperti politik, ekonomi, kriminal, hukum, serta kejadian penting seperti bencana dan lainnya) dan Soft News (berita yang kurang mengandung atau bahkan tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik seperti berita artis, gaya hidup dan lain-lain) terasa abstrak untuk dikonseptualisasikan ulang.

Berbagai media, terutama berita-berita online lebih sering memberitakan kehidupan artis yang sama sekali tidak penting! Di sisi lain, penonjolan berita atas gaya hidup tertentu, terutama melalui infotainment dan bahkan juga berita serius, dapat menggiring pola pikir masyarakat. Bagaimana berbagai media mengkabarkan kemewahan pernikahan artis tertentu atau baju mahal yang digenakan pejabat. Hal tersebut salah satu contoh pendefinisian sosial atas konsumsi masyarakat tertentu yang akan mengarah pada stratifikasi sosial bergantung pada gengsi apa yang dikonsumsi, khususnya yang tiap kali dipropagandakan oleh media. Akhirnya, hal tersebut akan menyebabkan unconscious motives bagi masyarakat.

Unconscious Motives

Pengulangan aktifitas sosial yang senantiasa dipertontonkan oleh pihak-pihak di luar sumber-sumber sosial, seperti media, akan menciptakan sebuah aktifitas sosial. Pengulangan tersebut akan menciptakan mekanisme psikologis sosial bagi masyarakat. Dimana masyarakat hanya sekedar menuruti tanpa menyadari apa yang mereka perbuat. Ketidakmampuan instropeksi dan mawas diri untuk menyadari perilaku sosial inilah yang kemudian sering disebut disebut Antony Gidden sebagai Unconscious Motives (lihat misalnya The Constitution of Society, 1984) .

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, implikasi dari modifikasi media membuat apa yang ditampilkan media menjadi tercabut dari akar-akar realitas masyarakat dan melakukan rekonstruksi kesadaran baru bagi masyarakat. Masyarakat yang sudah terbentuk pola pikir dan perilakunya akan senantiasa tidak menyadari apa yang sebenarnya dia konsumsi. Kita tidak perlu mempertimbangkan untuk apa membeli HP bermerek berdasarkan fasilitasnya yang memang sesuai dengan kadar kebutuhan.

Motif tidak sadar yang merupakan dampak dari komodifikasi media akhirnya membuat masyarakat menjadi konsumen beringas bergantung apa yang diperlihatkan media terus menerus. Selain itu, motif tidak sadar juga dapat merubah perangai masyarakat berdasarkan adonan komodifikasi media yang mempertontonkan hiperrealitas sebagaimana tayangan infotainment dan iklan.

Terakhir, di era komodifikasi media akan membuat masyarakat berada dalam posisi ruang jiwa yang serba tidak menentu. Rasa keraguan terus-menerus seperti itu harus berjalan sebagai langkah awal melakukan diskursif atas semua yang penciptaan realitas oleh komodifikasi media.

DAFTAR RUJUKAN

Badar, Aris. (2013). Analisis Wacana: Teori, Metode dan Penerapannya pada Wacana Media. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Gidden, Anthony. (1984). The Constitution of Society. Cambridge: Polity Press.

Syahputra, Iswandi. (2013).Rezim Media. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s