“CELUP” DAN KEBISINGAN SOSIAL BELAKANGAN INI

(Gambar: instagram/cekrek.lapor.upload. yang sudah ditutup, didapat dari medsos)

“Jika kamu menemui sepasang kekasih berbuat tindak asusila di tempat umum dan merasa terganggu, maka segera laporkan dengan mengikuti gerakan sosial ini”, itu adalah kalimat ajakan yang tertera di poster “Cekrek, Laporkan, Upload” (Celup) yang belakangan menjadi bahan rasan-rasan banyak orang. Alih-alih kampanye untuk meminimalisir kerisihan masyarakat terhadap aktifitas pacaran di tempat umum dengan cara sesuai dengan namanya, gerakan moral yang digagas empat mahasiswa UPN Jatim ini malah dianggap membuat banyak orang merasa terganggu. Para netizen begitu nampak beringas membully anggota-anggota Celup.

(Baca:KETERASINGAN (ALIENASI): POTRET KELAM NET GENERATION)

Lebih jauh lagi kemudian, salah seorang anggota dari pencetus gerakan tersebut menjadi sasaran amuk massa warganet. Sebab, kedapatan di IGnya beberapa foto mesra dirinya dengan sorang pria layaknya sepasang kekasih, sebuah perilaku yang menjadi target Celup untuk dilawan, yaitu “Selamatkan ruang publik kita, pergoki mereka! Laporkan pada kami”.

Terlepas dari itu, penulis memiliki beberapa catatan mengapa gerakan tersebut mendapat kecaman publik secara luas serta patut untuk diperbincangkan dalam konteks yang lebih besar.

Pertama, dalam poster ajakan tersebut, Celup telah menca)tut beberapa media sebagai pendukung tanpa ada kerjasama sebelumnya, diantaranya adalah Jawa Pos, Detik.com, TV9, serta menyertakan pula C2O, Aiola dan Pemkot Kota Surabaya. Meskipun kemudian pihak dari Celup dan bahkan UPN Jawa Timur sendiri telah memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas pemasangan logo dalam kampanye tersebut.

Jadi gini, sebuah gerakan sosial zaman now itu bisa memiliki dampak secara luas jika mendapatkan kerjasama dengan media. Kesalahan besar mereka adalah bukannya membuat kerjasama yang baik, tapi malah bikin gara-gara dengan media-media tersebut. Apalagi menurut pengakuan mereka di beberapa media menyatakan, mereka tidak memahami mekanisme kerjasama dengan instansi tertentu. Terus selama mereka kuliah ngapain saja, kok persoalan kayak gitu saja tidak tahu.

Kedua, dalam konteks yang lebih besar, kita tidak bisa mengalpakan kemuruh yang terjadi di Indonesia belakangan, persoalan dimana justifikasi tanpa konfirmasi telah banyak mengemuka, sebuah penanda dari produk berpikir instan net generation. Mulai dari kasus pembakaran hidup-hidup seorang laki-laki karena dianggap mencuri amplifier di Bekasi, dua sejoli yang di arak telanjang di Tangerang, sampai video seorang ibu menegur dua pria yang dianggap pasangan gay. Dalam pusaran percecokan publik atas kasus-kasus tersebut, gerakan Celup tidak hanya bisa ditangkap tugas kuliah yang telah berubah menjadi gerakan (keluguhan moral) saja, tapi dia menyumbang kerumunan perbincangan tentang bagaimana penghakiman persepsi yang semena-mena.

Tentang penilaian sepihak, Celup bukan hanya persoalan gampang menuduh orang melakukan tindakan asusila, tapi meningkatkan standar kesusilaan bukan pada konteks sewajarnya. Berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, misalnya tentang pencurian, tuduhan mesum di kos dan gay, tapi kini sesuatu yang pantas diprasangkakan buruk dan dipublish dengan segera dalam konotasi sangat negatif adalah sekedar orang memadu kasih di taman-taman Surabaya, kampanye awalnya dilakukan di Taman Bungkul.

Penulis meyakini ada penilaian yang berbeda tentang batasan asusila yang dipahami para penggagas Celup tersebut dengan kebanyakan orang. Kalau sekedar duduk bercengkrama berdua di taman tanpa melakukan grepe-grepe dan menyusun beberapa bait puisi, itu perilaku yang wajar.

Jika standar asusila bagi Celup adalah setiap pasangan berduaan (entah sudah menikah atau tidak) dianggap mengganggu mata, penulis menyarankan penggagas Celup tersebut menghabiskan waktu di dalam rumah peribadatan dengan memperbanyak dzikir dan menyingkir dari realitas-realitas tersebut. Atau supaya pikirannya tidak sepaneng itu, penulis menyarankan rekan-rekan Celup sering-sering main-main ke pantai Kenjeran malam minggu biar gak kaku melulu otot-otot otaknya.

Masih berkaitan dengan penghakiman persepsi yang kemudian disebar di Medsos, tentu ini bisa mendapatkan pandangan buruk dari publik. Sebab, penghakiman persepsi yang dilakukan Celup itu dilakukan secara sistematis, masif dan terstruktur. Penghakiman satu orang ibu saja menjadi bulan-bulanan di medsos, apalagi berbentuk sebuah gerakan yang mengajak masyarakat berbondong-bondong bergabung dengan iming-iming hadiah tertentu, mulai dari pulsa hingga baju.

Jadi, kecenderungan masyarakat Indonesia yang kini mengemuka adalah tidak suka adanya penghakiman persepsi, terlebih lagi kemudian diangkat di dunia maya, serta besarnya campur tangan pihak lain dalam kehidupan pribadinya. “Ojo ngurusi urusanku, Cuk!”, kata seorang teman asli Surabaya.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s