BAHWA ISLAM ITU (MENGANDUNG) POLITIK JUGA!

(Gambar: Sampul buku “Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia (2009), sebuah buku yang mencoba menawarkan konsep tatanan sistem politik Islam secara cukup lengkap)

Serangan 11 September 2001 yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal menandai mengemukanya kembali diskursus tentang politik Islam yang tidak diprediksi sebelumnya. Populernya hipotesa bahwa sekularisme bersamaan dengan hadirnya trend modernisme diyakini sebanding lurus dengan surutnya pengaruh agama dalam konstelasi politik global ternyata kurang terbukti dalam realitasnya. Sebagaimana gerakan kelompok fundamental minoritas Islam dan kelompok imigran yang memperjuangkan gagasan formalisasi Islam dalam kebudayaan negara yang cenderung mayoritas beragama Islam terus tumbuh (sebagaimana HTI di Indonesia). Fenomena fundamentalisme agama, mengutip pernyataan Thomas Meyer Meyer (2004), bukan hanya menampakkan bukti kembalinya agama dalam kehidupan politik, tapi bagaimana kehidupan politik hendak dikendalikan berdasarkan kepercayaan agama versi mereka sendiri, serta menyingkirkan tafsir lain. Permasalahan di atas juga terjadi di negara kita yang notabennya adalah negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Gerakan-gerakan politik Islam yang mengusung gagasan Islamisme terus berkembang.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas bagaimana perjuangan formalisasi syariat itu berlangsung, tapi lebih pada mengetengahkan kerangka pemaknaan terhadap politik Islam dan perbedaan penafsiran atas politik Islam. Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, meskipun banyak ilmuwan politik telah mengabaikan kajian atas politik Islam, rentetan peristiwa yang terus-menerus berlangsung memaksa mereka untuk menelaahnya kembali.

(Baca: NASIONALISME SEBAGAI BERHALA DI BUMI INDONESIA )

PEMAKNAAN POLITIK ISLAM

Terdapat degradasi wacana dan persepsi tatkala kita memahami politik Islam. Politik Islam, terutama yang dipahami banyak sarjana Barat yang kemudian diikuti banyak orang, merujuk pada terminologi yang mengidentifikasian distingsi dengan Islam sebagai agama, dimana agama Islam yang selama ini berkutat pada bentuk kepercayaan dan ritual-ritual konvensional telah bergerak di dalam wilayah domain sekuler (Charles Hirschkind, 2011: 13). Islam diletakkan sebagai sebuah seperangkat ajaran yang hanya terkungkung dalam domain privat, sedangkan untuk menjangkau domain publik, hal tersebut dianggap sesuatu yang baru dalam literasi dan diskursus kalangan terpelajar Barat. Kesalahpahaman seperti ini kiranya perlu diluruskan untuk bisa mencapai keadilan dalam memahami Politik Islam.

Jika kita menilik kitab-kitab ulama klasik, seperti Fatkhul Qorib, Fatkhul Muin dan lain-lain, tema-tema tentang pengorganisasian dan pranata sosial juga masuk dalam cakupan pembahasan hukum Islam, sebagaimana aturan jual beli, kontrak, sewa dan seterusnya. Sebagaimana juga ketika orang Islam mendirikan masjid, lembaga pendidikan, kesehatan hingga partai politik, kita akan segera menangkap bahwa sebenarnya Islam bukan hanya berbicara bagaimana menjadi muslim secara personal yang baik, namun juga bagaimana relasi sosial, ekonomi, budaya dan bahkan politik juga tidak luput dari perhatian. Ringkasnya, adalah sebuah bias reduksi jika hanya meletakkan Islam hanya dalam skala personal dan ritual bagi umat Islam, tapi ajaran Islam juga mencakup wilayah-wilayah dalam domain publik.

Seturut itu pula, penulis lebih meletakkan pemahaman politik Islam bukan dalam artian gema Islam yang turut berbicara dalam wilayah publik secara luas, tapi lebih pada mengarah bagaimana pemikiran politik Islam yang lebih spesifik untuk kemudian ditawarkan. Pemikiran politik Islam disini diartikan sebagai seperangkat ajaran sistematis tentang tatanan sistem politik yang dianggap ideal yang bersumber dari intepretasi umat Islam tertentu terhadap teks pokok teologis agama Islam, yaitu Al-quran dan Al-hadist. Perlu segera diketengahkan kemudian, politik Islam dalam arti luas ini harus dibedakan dengan fenomena-fenomena seperti “Islamisme” yang kini marak diperbincangkan. Kata kunci politik Islam harus menekankan kata intepretasi yang menghasilkan pemaknaan tatanan politik ideal yang berbeda, meskipun berasal dari rujukan yang sama, yaitu Al-quran dan Al-Hadist.

Klasifikasi secara umum akan membagi aliran politik dalam Islam menjadi 3 bagian, pertama Islam formalis, kedua Islam liberal, dan ketiga adalah Islam Substansi. Islam formalis cenderung memaksakan kehendak atas negara untuk menganut ideologi Islam sebagai dasar negara, sedangkan Islam liberal menganggap urusan agama dan negara adalah urusan yang harus terpisah secara tegas. Sedangkan Islam substansi adalah kelompok yang memandang negara tidak perlu mengakomodir Islam sebagai ideologi negara, tapi cukup etika dan norma Islam akan memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan negara. Jika menelisik dari tipologi lain dengan bahasa yang berbeda namun secara substansi sama, dapat ditemukan dalam buku Pemikiran Islam Tematik (2013: 21-38) karya Prof. Dr. Sukron Kamil, M.A. Ia membagi tipologi pemikiran politik Islam modern menjadi tiga, tipologi hubungan organik dan bentuk pemerintahan Teo-Demokrasi, tipologi Sekuler dan tipologi Moderat. Tipologi hubungan organik dan bentuk pemerintahan Teo-Demokrasi menempatkan Islam bukan hanya sekedar agama, namun juga sebagai negara. Berangkat dari asumsi dasar Islam adalah agama yang sempurna dalam memenuhi panduan segala aspek kehidupan, termasuk persoalan politik dan kenegaraan. Terkait moderat dan sekuler tidak terlalu jauh pemahamannya dengan apa yang dikemukan sebelumnya. Menyepakati konseptual dari pemilahan aliran politik dalam Islam tersebut, Islamisme akan menempati posisi dalam klasifikasi yang pertama, Islam formalis atau tipologi hubungan organik dan bentuk pemerintahan Teo-Demokrasi.

Uraian tersebut sekaligus menegaskan ulang bahwa gerakan Islamisme tidak sepenuhnya mewakili pemahaman politik Islam keseluruhan. Masih ada varian yang berbeda dalam memandang politik Islam. Pernyataan ini terasa penting untuk dijelaskan mengingat akhir-akhir ini, sebagian kelompok muslim minoritas kerap kali berlindung atas nama Islam dalam menjalankan politik Islam menurut versi mereka. Gamblangnya, apa yang diusung oleh gerakan-gerakan Islamisme yang radikal atau setengah radikal di Indonesia sama sekali tidak mewakili pandangan umum tentang politik Islam. Gagasan mereka hanya mewakili sebagian kecil tafsir yang ada.

Di samping itu, salah satu tawaran untuk menangkal atau menghadapi maraknya gerakan Islamisme yang saya proyeksikan dalam tulisan ini adalah, bagaimana berbagai kelompok atau organisasi keagamaan lain yang merasa tidak sependapat harusnya memberikan wacana politik Islam tandingan versi mereka. Artinya, selain menentukan posisi berdiri yang tegas berseberangan dengan gerakan tersebut, kelompok atau organisasi keagamaan Islam lainnya harus juga menawarkan konsepsi yang lain dalam memahami politik Islam. Jika tidak ada tawaran tandingan atas intepretasi politik Islam lain, maka tidak bisa disalahkan kelompok Islamisme akan terus-menerus mengklaim diri sebagai satu-satunya tafsir politik menurut Islam yang sah.

Dalam konteks di Indonesia misalnya, buku Manifesto Hizbut Tahrir (2009) bisa menjadi rujukan yang menarik tatkala HTI memploklamirkan gagasan mereka tentang khilafah. Terlepas dari pro-kontra yang mengiringinnya, buku itu bisa menjadi salah satu sikap politik Islam mereka yang cukup komprehensif. Sehingga, perlu kiranya, semisal ada yang tidak setuju terhadap gagasan-gagasan politik Islam HTI, Islamisme dan seterusnya, maka perlu dipertimbangkan kepada berbagai aliran atau Ormas keagamaan lainnya, selain berbicara bahwa mereka tidak sependapat, harus disusun pula bagaimana intepretasi mereka terhadap politik Islam yang dibawah.

 

 

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s